Pada Kamis, 3 Mei 2018, Alhamdulillah saya berkesempatan untuk sharing bersama anak muda di kota Sampit, di Gedung Nadhlatul Ulama Kotawaringin Timur. Kawan-kawan muda ini berasal dari PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Sampit, Kopri PMII Sampit, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Sampit GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), dan perwakilan dari STIE Sampit.

Kami ngobrol bareng seputar wajah Kalteng hari ini, yang sebentar lagi akan menginjak usianya ke-61 tahun. Beberapa hal yang saya sampaikan ke kawan-kawan muda adalah :

1.Mayoritas pekerja di Kalteng berlatar belakang pendidikan SD, sebanyak 416.719 jiwa.
-Latar pendidikan ini berpengaruh pada daya saing para pekerja yang berdampak pada ketahanan ekonomi keluarga, terlebih jika dikaitkan dengan era MEA (masyarakat ekonomi asean) dan wacana pemindahan ibukota RI.
-Pekerjaan rumah kita bersama sebagai orang Kalteng untuk menempatkan pendidikan pada prioritas utama, khususnya pengganggaran APBD untuk pembangunan sumber daya manusia di tiap daerah.

2.Komoditas andalan Kalteng masih tergantung pada Palm Oil/minyak kelapa sawit (kedua karet, ketiga kelapa).
-bahkan menurut data BPS, jumlah perkebunan kelapa sawit di Kotim saja itu lebih luas dibanding luas wilayah Kabupaten Sukamara.
-Data ini bukan ingin menyampaikan kampanye anti sawit, diskusinya bukan pada itu. Tapi ketergantungan kita pada komoditas kelapa sawit dapat menimbulkan dua sisi untung rugi. Butuh diversifikasi agar kita tidak ketergantungan pada satu komoditas saja.
-Apalagi hari ini pasar uni eropa sedang mengalami sentimen negatif terhadap kelapa sawit, karena kebijakan reformasi konsumsi energi, tepatnya parlemen eropa menyetujui penghentian penggunaan biofuel berbahan dasar kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan.

3.Pada bidang politik, Kalteng juga masih harus berbenah lebih baik.
-Data menunjukkan tingkat partisipasi pemilih (pada pilgub 2015) masih rendah, dari total DPT baru ada kisaran 50% yang menggunakan hak pilihnya (lihat foto untuk lebih jelas).
-Bisa jadi, setengah penduduk kalteng belum melek politik atau punya pemaknaan yang negatif terhadap politik, sehingga enggan untuk terlibat.
-Dampaknya, trust/tingkat kepercayaan dan control masyarakat terhadap kebijakan yang dilahirkan kurang.
-Oleh karena itu PR besar, bagaimana agar masyarakat bisa ikut memilih. Pemilu harus menjadi agenda yang menarik masyarakat untuk bergembira memilih dan menentukan pemimpin daerah nya/ wakil nya di parlemen.
-Data selanjutnya, Anggota dewan atau wakil rakyat di Parlemen masih banyak yang berlatar pendidikan SLTA/SMA.
-Memang tidak salah, karena UU 7 th 2017 tentang pemilu memang memberi kelegalan untuk itu.
-Yang menjadi masalah adalah ketika anggota dewan/parlemen harus dihadapkan pada bidang-bidang (yang terbagi dalam komisi-komisi) yang membutuhkan kompetensi dan keahlian tertentu.
-Saya secara real pernah mendapatkan ketika melakukan penelitian seputar PERDA HIV/AIDS (perda kesehatan) yang dimana anggota dewannya tidak ada orang dengan background kesehatan. Bisa dibayangkan kualitas kebijakannya bukan ?
-Oleh karena itu saya mengajak kawan-kawan muda yang hadir (yang semuanya telah berkuliah) untuk tak tinggal diam apalagi anti dengan politik, kawan-kawan muda harus terlibat baik sebagai control maupun aktor dari politik/ pengambil kebijakan.

terakhir saya mengutip kata Mas Anies Baswedan berikut sebagai penutup paparan kepada kawan-kawan muda :

"Kita memiliki banyak masalah itu bukan karena semata orang jahat banyak, tapi juga karena orang-orang baik yang ada hanya diam dan mendiamkan kejahatan terjadi."

Semoga manfaat,
Salam.

A.R. Asrari Puadi
(Palangka Raya, 4 Mei 2018)

**semua data yang dipakai berasal dari "Provinsi Kalimantan Tengah dalam angka tahun 2017, terbitan BPS Kalteng"