November 2015 - Ruang Tengah

Thursday, 26 November 2015

Terima Kasih Donatur #BebasAsap :)


Halo, Pembebas. Setelah kurang lebih satu bulan campaign ini kami buat di kitabisa.com/bebasasap , terkumpullah dana sebesar Rp 14.616.426. Jumlah ini tak mungkin terkumpul tanpa kepedulian segenap Pembebas yang telah berpartisipasi dalam donasi ‪#‎BebasAsap‬ yang diinisiasi oleh bebasasap.org

Kami mengucapkan terimakasih atas partisipasi Pembebas dari seluruh penjuru negeri. Ini bukan tentang jumlah yang terkumpul, tetapi tentang semangat berbagi dan ingin ambil bagian dalam menyelesaikan masalah yang kemudian diejawantahkan melalui gerakan donasi ini. Masalah asap bukan hanya tentang kebakaran lahan, tetapi tentang banyak nyawa yang terancam. Melalui donasi #BebasAsap , teman-teman telah bergerak bersama dan berperan sebagai saudara satu bangsa.

Menindaklanjuti program donasi ini, kami telah berkoordinasi dengan Sahabat Ilmu Jambi, WALHI Kalimantan Tengah, dan TurunTangan Palembang sebagai komunitas dan organisasi lokal di daerah-daerah yang terkena dampak asap untuk menyiapkan penyaluran donasi yang sebelumnya juga sudah dua kali kami laksanakan. Tim bebasasap.org tak bergerak sendiri untuk menyalurkan donasi ini. Kami percaya, semangat teman-teman komunitas lokal dapat menjadi penyempurna gerakan yang kita laksanakan bersama, dan agar donasi dapat tersalurkan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan.

Sekali lagi, kami ucapkan terimakasih kepada seluruh Pembebas yang telah berpartisipasi dalam pengumpulan donasi #BebasAsap , serta tak lupa partner yang membantu gerakan #BebasAsap yaitu Turun Tangan, KitaBisa.com , Insta Nusantara Palangkaraya, Sahabat Ilmu Jambi, Rumah Salman ITB, Korsa ITB, CSM Cargo, Ikagamass UGM, HIMA Jambi UGM, Walhi Kalteng, Para tokoh Kurniawan Gunadi (Novelis), David Nurbianto (Stand Up Comedian), Agnes Davonar (Novelis), Hifidzi Khoir (Stand Up Comedian), Gardika Gigih (Pianis).

Salam hangat,
Tim bebasasap.org

Tuesday, 24 November 2015

Merasakan Indonesia


“Pemuda hadir tak hanya berbatas pada makna usia, ia hadir dengan luas untuk merasakan negerinya”
Di masa itu 87 tahun yang lalu sekumpulan pemuda hadir turut ikut mengisi negerinya, mengisi dengan sebuah komitmen persatuan berdasar rasa sepenanggungan terhadap bangsa. Bukan main, proses merasakan bangsa yang mereka ejawantahkan dalam tiga baris “Satu Kesatuan” itu sukses mengantarkan negeri pada nuansa persatuan yang bergelora, yang mana menjadi modal penting kala itu dalam usaha mengusir kolonialisme demi tercapainya sebuah bangsa yang merdeka.

Kini kesuksesan merasakan negeri di 87 tahun lalu itu menjadi sebuah moment penting di tiap pergantian tahunnya, beragam kemasan diolah dan disuguhkan untuk merefleksikan nilai-nilai historis dan semangat pemuda dari berbagai “Jong” nusantara. Bahkan tak terhitung berapa banyak anak muda hari ini yang juga ikut menyalakan kembali sumpah pemuda dengan kobaran semangat walau bermodal piranti gadget ala anak muda di zaman kekinian, ratusan bahkan ribuan posting membanjiri lini massa sosial media yang tak jarang juga menjadi trending topic negeri bahkan dunia, lebih-lebih jika waktu itu sumpah pemuda ditulis disebuah lini sosial media, bisa dibayangkan berapa retweet yang akan tersiar keseluruh penjuru negeri.

Bukan asal sumpah

Sumpah menurut pengertiannya yaitu menahkikkan atau menguatkan sesuatu dengan menyertai nama Tuhan. Setidaknya jika ditelisik lebih lanjut ada tiga poin penting yang menjadi bagian yang turut membungkusi makna sumpah, yaitu sebuah pernyataan resmi, tekad untuk siap menanggung konsekuensi atas sesuatu, dan ikrar untuk dengan teguh menunaikan sesuatu.

Sumpah jika disederhanakan mempunyai jarak dan hubungan dekat dengan pemaknaan komitmen, lebih-lebih sumpah yang pada awalnya dibuat dan diperuntukkan untuk sesuatu yang fundamental dan menciptakan nilai keberlanjutan bagi setiap pengucap dan pendengarnya seperti halnya sumpah pemuda.

Sumpah dengan tiga baris “Satu Kesatuan” yang hingga kini kita ingat dan ulang, sejatinya memuat nilai dan kedudukan penting bagi kehidupan pemuda dan bangsa. Nilai-nilai itu memuat sebuah harapan sekaligus komitmen bagi setiap pendengar dan pengucapnya untuk turut melaksanakan dan menginternalisasi kedalam diri pribadi menjadi sebuah lelakon di kehidupan sehari-hari.

Sesekali waktu adakalanya kita perlu bertanya, jika hari ini kita masih menyuguhkan negeri dengan lelakon yang menumpahkan darah sesama anak bangsa, menyibukkan diri dengan berucap bahwa ideologi bangsa ini salah dan yang benar hanyalah ideologi kelompok tertentu, serta mengasingkan bahasa Indonesia di negerinya sendiri, maka jangan-jangan sebenarnya kita hari ini telah berjamaah melanggar sebuah sumpah dan menjadi pemuda yang turut menyumbang dosa bagi negerinya.

Setiap pemuda adalah pelajar bangsa

Setiap kita adalah pembelajar tanpa terkecuali, dan belajar adalah kegiatan sehari-hari yang kita lakukan semenjak kita lahir dari rahim dan ditiupkan oleh-Nya ruh kehidupan.

Belajar dan menjadi pelajar tak boleh memproduksi minder, hari-harinya harus dipenuhi dengan produk optimisme. Jika sebagian memilih cukup puas dengan mem-bully dan nyinyir terhadap sebuah masalah bangsa, maka pelajar bangsa harus gagah mendirikan solusi memagar optimisme untuk menyelesaikan masalah bangsa.

Pelajar tidak boleh trauma dengan luka 350 tahun dijajah, karena sejatinya negeri ini juga masih muda masih punya semangat menyongsong masa depannya. Ledekan negeri lain terhadap bangsa kita yang tradisionalis, kuno dan miskin, harusnya tidak kita amini dengan sikap konsumerisme yang terus menyusu pada temuan teknologi bangsa lain, kita harus menjadi bangsa yang kaya yang bisa menyusu dengan temuan anak negerinya. Koes Plus dalam lirik lagunya menyebutkan bahwa negeri ini adalah “kolam susu” yang mana harusnya tak ketergantungan mencari susu di negeri lainnya.

Pelajar bangsa hari ini harus belajar ekstra tak sekedar hanya belajar menyoal sendiri, kesepian, berdua, bahagia serta segelintir obrolan lain kaum elit berlabel perasaan. Menjadi pemuda dan pelajar bangsa di hari ini harus ikut seaktif mungkin merasakan bangsanya, merasakan tentu tak hanya sekedar peka dan berkata “Oh iya Indonesia”, merasakan harus dimanifestasikan dalam cinta dan rindu untuk terus menjadi aktor yang berlaga menciptakan moment penting bagi sejarah bangsa. Kita harus yakin dan memperlihatkan kepada mereka para pejuang muda, bahwa sumpah pemuda yang 87 tahun silam mereka ucap telah melahirkan “Jong-jong” baru yang siap ikut bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu untuk kemajuan negeri Indonesia.

Tuhan membenci seseorang yang mengatakan sesuatu yang tidak ia kerjakan. Idiom Sufi memberi petuah “tidak mengenal jika tidak merasakan” dan “tidak merasakan jika tidak mengalami”.-
(Candra Malik)

Ramadhan, Amal dan Kesalehan Politik


Tidak terasa, sebentar lagi ramadhan yang agung nan berkah ini akan pergi meninggalkan kita. Segala tindak tanduk yang dilakukan selama ber-ramadhan menjadi catatan dan bekal yang menjadi nilai atas ramadhan kita di hari ini di yaumil akhir kelak. Seyogyanya ramadhan tidaklah hanya meninggalkan pelajaran menahan lapar dan dahaga, namun lebih dari itu ramadhan juga seyogyanya menjadi suatu pelajaran penting dalam konteks kehidupan berpolitik, lebih-lebih bagi kita yang dimana daerahnya di penghujung tahun ini akan melakukan pergantian tampuk kepemimpinan atau pemilihan kepala daerah langsung (PILKADA), dimana lewat hajatan ini nasib dan kemajuan daerah kita kedepan ditentukan.

Politik sebagai ladang amal.

Politik disebutkan sebagai seni untuk meraih kekuasaan, dalam perspektif sempit lagi politik dicitrakan sebagai bentuk perilaku keduniawian, sehingga selalu berkaitan dengan pusaran harta, kekuasaan dan kedudukan yang kemudian membuat banyak orang memandang politik sebagai jalan yang kurang baik dan dihindari dalam berkehidupan.

Pandangan diatas memang tak serta merta muncul tanpa sebab musabab, cara-cara masuk kedalam politik dengan cara yang kurang terhormat membuat citra politik semakin kurang baik di mata masyarakat, sebut saja agenda politik menggunakaan pemikat uang sebagai penarik dukungan yang terjadi marak hampir di semua daerah pemilihan. Namun pandangan ini harusnya juga tak serta merta menyurutkan kesempatan bagi politik untuk mendapatkan citra yang baik dimata masyarakat. Mengutip apa yang pernah diucapkan Anies Baswedan bahwa “Politik menjadi kotor bukan karena politik adalah sesuatu yang terbentuk sebagai produk kotor, namun terlebih karena banyaknya orang-orang baik memilih diam mendiamkan dan enggan masuk terlibat langsung dalam politik”, ibarat kata berharap besar terhadap perubahan namun enggan terlibat menjadi bagian perubahan.

Bukankah kemudian sering kita mendengarkan dalam ceramah-ceramah, kultum, khutbah dan bentuk verbal syiar lainnya bahwa disebutkan setiap manusia di muka bumi ini mempunyai konsekuensi langsung sebagai khalifah sebagaimana terdapat dalam beberapa ayat di dalam al-Qur’an yang dapat dimaknai bahwasannya menjadi pemimpin adalah sebuah bentuk yang diamanahkan langsung oleh Allah kepada kita sehingga kegiatan memimpin merupakan perihal wajib yang harus dilakukan oleh manusia sebagai bentuk ketaatan padaNya.

Dengan tugas khalifah yang diemban tadi, maka mustahil kiranya tidak akan bersentuhan dengan kegiatan yang disebut politik. Hal ini menjadikan politik sebagai salah satu instrumen utama yang harus menjadi kompetensi yang dikuasai seorang khalifah. Politik pula menjadi sesuatu yang mau tidak mau diubah dari suatu kegiatan yang dicitrakan negatif menjadi sesuatu kegiatan yang mempunyai citra positif. Usaha-usaha ini juga lazimnya tidak hanya sekedar kemudian selesai pada tataran memandang politik sebagai sebuah kebaikan, namun juga ditunjukkan dengan jalan menjadi khalifah yang mengerti dengan politik dan menjalankannya dengan kebaikan politik pula. Sehingga politik bukan menjadi ladang untuk memperkaya diri dengan materi atau bentuk-bentuk duniawi lainnya namun menjadikan politik sebagai ladang untuk memperkaya amal sebagai jalan mencapai keridaan sang pencipta.

Untuk mencapai tingkatan politik yang ditujukan sebagai ladang amal maka setidaknya kita dapat berkaca kepada beberapa prinsip dan substansi didalam ramadhan itu sendiri. Salah satunya adalah perihal subtansi menahan hawa dan nafsu.

Selama satu bulan kita diwajibkan untuk menahan hawa dan nafsu dengan baik maka begitu pula dengan berpolitik, berpolitik yang baik akan sangat tahu bahwa ada batasan-batasan yang harus ditaati, salah satu contohnya menahan godaan untuk tidak menerima bujuk rayuan terhadap tindakan korupsi baik itu korupsi yang berupa materil ataupun non materil seperti waktu, maka khalifah yang baik akan tau dan memprioritaskan waktunya untuk memenuhi janji-janji politik dengan tepat sasaran dan tepat waktu.

Kesalehan Politik bukan Politik Kosmetika.

Selain perihal menahan hawa dan nafsu ramadhan tentu mengajarkan banyak hal bagi kita tentang bagaimana menyoal kesalehan, baik itu kesalehan yang bersifat pribadi maupun kesalehan yang sifatnya adalah sosial yang kemudian kita kenal dengan sebutan ibadah Mahdhah yang menghubungkan secara vertikal antara kita dengan Tuhan secara langsung dan juga ibadah Ghairu mahdhah yaitu hubungan horizontal yang merupakan bentuk lain dari ketaatan, dengan penekanan kemasan pada hubungan kita sebagai sesama manusia dengan manusia lainnya. Adapun kesalehan itu sendiri dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan sebagai suatu bentuk ketaatan (kepatuhan) dalam menjalankan ibadah serta kesungguhan menunaikan ajaran agama, yang mana tercermin dalam perilaku kehidupan setiap pelakunya.

Terkait dengan hal diatas, dalam kehidupan berpolitik Ramadhan harusnya memberi pelajaran banyak tentang bagaimana menjadi saleh dengan jalur politik atau kemudian dapat kita sebut dengan terminologi kesalehan politik.

Saleh tentu sebuah predikat yang bukanlah sekedar kosmetik, yang kemudian menjadi instrumen estetika temporer belaka. Figur-figur politik yang saleh bukanlah figur yang kemudian sibuk mendandani dirinya dengan kosmetik pencitraan, bukanlahlah pula yang sibuk hadir didepan rakyatnya dengan perangkat kereligiusan dan keberpihakan sementara. Sehingga politik kosmetika tentu bukanlah ciri kesalehan politik.

Kesalehan politik sangatlah tergantung dengan bagaimana keadaaan hati para pelaku politik. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kepada kita bahwa ada segumpal daging dalam tubuh manusia, jika itu baik maka pikiran, ucapan, dan tindakannya akan baik. Segumpal daging itulah yang disebut hati yang mana dalam bernegara dan berbangsa sebagai bentuk dari kegiatan politik sangat bergantung pada hati sang pemimpinnya. Maka dapat dipastikan kalau hati sang pemimpin baik, akan baiklah seluruh pikiran dan gerak langkah dari apa yang dipimpinnya, dalam hal ini ialah daerah yang menjadi tanggung jawab kepemimpinannya. Kejernihan dan kebaikan hati pemimpin yang mensejahterakan rakyatnya inilah yang harusnya ditonjolkan, bukan malah sibuk mencari panggung sebagai pengakuan atas kekuasaan yang dimilikanya dan upaya politik kosmetika sebagaimana diulas diatas tadi.

Giliran orang baik untuk berpolitik.


Ada baiknya kemudian banyak orang-orang baik memilih masuk dan terlibat dalam politik, entah dalam konteks terlibat sebagai aktor langsung ataupun terlibat sebagai orang yang ikut mengantarkan orang-orang baik masuk kedalam politik. Karena dimensi kesalehan bukanlah kemudian hanya berlaku pada saat di tempat ibadah, berpuasa ataupun kegiatan agama lainnya, namun juga berlaku dalam dimensi politik.

Menjadi aktor politik yang hadir dengan kesalehan politik adalah bentuk lain dari internalisasi ajaran-ajaran agama yang dapat menjadi ladang amal yang berbuah nilai kebaikan bagi timbangan di akhir kelak. Disisi lain sembari kita berdo’a bersama semoga kedepan siapapun pemimpin yang terpilih mampu menjadi aktor yang mengedepankan kesalehan politiknya, sehingga tidak hanya menjadi pemimpin yang dicintai rakyatnya namun juga menjadi pemimpin yang dicintai oleh-Nya.


dimuat di : http://borneonews.co.id/berita/19461-ramadan-amal-dan-kesalehan-politik