April 2015 - Ruang Tengah

Friday, 3 April 2015

Kakek (ku), Jum’at dan Baelangan.




"Kueh atei jida taharu, awi tahi jida hasupa." (Bagaimana hati tak rindu, Karena sudah lama tidak bertemu.)

Jum’at satu hari diantara 7 hari ini merupakan suatu hari yang menurut banyak orang merupakan hari yang istimewa. Jum’at juga yang selalu mengingatkan saya kepada sesosok lelaki dari keluarga kami. Lelaki yang meninggalkan banyak kesan dan cermin hidup, belilaulah H. Mahlan kakek yang kami rindukan.

Kepergian belilau beberapa tahun silam, menjadi sesuatu yang membekas bagi diri saya pribadi. Ada satu hal yang selalu saya ingat ketika mengingat beliau, Jum’at dan Hasupa (Dayak : bertemu) atau dalam bahasa banjar Baelangan (Banjar : bertemu) yang umumnya penduduk di Pembuang Hulu(1) gunakan, merupakan dua hal yang tak terpisahkan dari sesuatu yang membekas itu.

Satu-satunya nama hari yang dijadikan nama surat dalam Al-Qur’an ialah Jum’at, (surat al-Jumu’ah).

Jum’at merupakan hari yang agung, hari yang dimana banyak sumber dan pendapat ulama mengatakan banyaknya keistimewaan di hari Jum’at, dimulai dari waktu yang mustajab untuk berdo’a hingga hari akhir (kiamat) akan tiba di hari Jum’at.

Sebagai mana Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Sebaik-baik hari dimana matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari Jum’at Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari Jum’at itu juga dia dikeluarkan dari Surga. Hari Kiamat tidaklah terjadi kecuali pada hari Jum’at.” (HR.  Muslim) 

Menurut etimologi kata Jum’at berasal dari akar kata jama’a-yajma’u-jam’an, artinya: mengumpulkan, menghimpun, menyatukan, menjumlahkan, dan menggabungkan dengan kata lain juga bisa dimaknakan sebagai persatuan, persahabatan, kerukunan [al-ulfah], dan pertemuan [al-ijtima].

Jum’at dan Baelangan

Sesuai maknanya, Jum’at yang istimewa inilah yang kemudian mengingatkan memori waktu kecil kepada satu waktu dimana semua keluarga kami berkumpul. Salah satunya moment bersama-sama sholat Jum’at di salah satu masjid di dekat rumah dari kakek.

Masjid At-Taqwa sebuah masjid yang cukup besar ini juga yang mengumpulkan banyak orang dari desa kecil Pembuang Hulu, orang-orang (dalam hal ini lelaki) berlomba-lomba menuju masjid dengan pakaian terbaik, bersarung, rapi dan wangi, yang sangat jarang saya temukan di masjid di kota-kota besar dimana sholat jum’at pada umumnya dilakukan tanpa persiapan khusus terlebih dahulu, bahkan di kalangan mahasiswa sudah umum kiranya Jum’at-an dengan berkemeja kampus tanpa peci atau wangi-wangi an.

Disatu sisi suasana Masjid yang dipenuhi dengan kaum lelaki juga dimanfaatkan pula oleh Ibu, Acil (Banjar: Tante/Bude), adik, dan kakak kami untuk Baelangan dalam rangka berkumpul bersama Nenek di rumah, moment inilah kiranya yang menggambarkan kerukunan [al-ulfah].

Sepulang sholat Jum’at berjamaah biasanya kami (lelaki) berkumpul kembali kerumah Kakek dan Nenek, ada suatu tradisi yang biasanya dilakukan yaitu “Selamatan”yang diisi dengan berkumpul memanjatkan do’a Selamat dan do’a – do’a lain yang baik, kegiatan ini juga biasanya diikuti oleh tetangga dan warga lain disekitar rumah kakek-nenek.

Seusai memanjatkan do’a bersama, biasanya ada hidangan makanan dan minuman (Soto Banjar dan Teh hangat umumnya) namun kadang tak puas dengan itu biasanya juga keluarga kami Bepancokan (Banjar : Ngerujak bersama) karna kebetulan kakek nenek mempunyai beberapa tanaman Kedondong disekitar rumah (kini suddah tidak ada). Moment Bepancokan ini juga yang selalu dirindukan, dimana tak hanya menikmati rujak kedondong dengan sambal yang tentu pedas tapi moment saling berbagi, bercanda dan saling tertawa bersama itulah yang membuat moment ini semakin lengkap untuk selalu dirindukan.

Jum’at Bersilaturahmi, Jum’at Bersyukur

Kini, keadaan jauh dari mereka dan kakek yang sudah pergi kiranya Baelangan sebagai perwujudan silaturahmi seperti sebelumnya akan sangat sulit untuk dilakukan. Tapi esensi Jum’at sebagai suatu hari yang meninggalkan pesan tentang keutamaan silaturahmi selalu teringat hingga hari ini.

Jum’at pulalah yang memberi makna dalam tentang kesyukuran, kesyukuran karna diberikan kesehatan dan kesempatan untuk menikmati Jum’at nan indah ini. Karna mungkin banyak lelaki muslim yang merindukan untuk berjamaah melaksanakan Jum’at-an  namun karna keadaan dan kondisi Sakit yang didera sehingga tidak bisa melakukan sebagaimana lelaki lainnya.

Semoga apa yang kakek “isyaratkan” dalam makna Baelangan bisa kami teruskan dalam konteks kekinian. Sehingga semakin kecil kesempatan bagi negeri yang “Bhinneka” ini untuk berseteru dan berselisih paham, karna Jum’at tak hanya sekedar hari diantara hari lainnya, namun Jum'at adalah sesuatu yang penting yang mengingatkan kami tentang makna dalam tentang persatuan, persahabatan, kerukunan [al-ulfah], dan pertemuan [al-ijtima].

Semoga kami cucu-cucu mu, bisa menjadi apa yang termaktub dalam pepatah dayak yaitu menjadi “Oloh je tau menggatang tarung oloh bakase.” (Seseorang yang bisa mengangkat martabat orangtuanya).

Damai disana kek. Al-Fatihah.
Salam Rindu
-dari cucumu yang (masih) bandel-


Keterangan :
(1)     Pembuang Hulu : Salah satu daerah di kecamatan Hanau, Kabupaten Seruyan – Kalimantan Tengah

Wednesday, 1 April 2015

Berbagi dengan semut





Kemarin atau setiap hari akan selalu kita dapati peristiwa sebuah makanan yang dihinggapi puluhan atau bahkan ratusan semut, peristiwa yang kadang membuat kita kesal karna betapa inginnya kita dengan makanan tersebut tapi sudah didahului oleh segerombolan semut.

Semut seperti kita ketahui merupakan salah satu hewan “cilik” yang berada dimana-mana di gedung tinggi bahkan di rumah-rumah, mungkin bisa dikatakan semut adalah hewan yang ada di seantero dunia.

Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut mungkin lebih mudahnya kita bisa mengingat lagi apa yang tergambarkan dalam sebuah film “A Bug’s Life” sebuah film yang menarik dan mendidik terutama tentang kerjasama dari koloni semut.

Lantas mengapa tulisan ini seolah-olah mengajak untuk berdamai dengan semut, padahal kita sudah tau semut itu sering bikin kesal karna telah mengambil makanan kita.

Seni ikhlas
Semut-semut yang mengambil makanan memang sudah mengambil tanpa permisi kepada kita yang mempunyai makanan, tentu mereka memang tidak bisa permisi karna bahasa kita yang berbeda.

Namun pernahkah kita terpikir bahwa peristiwa makanan yang diambil oleh semut tadi adalah sebuah pelajaran yang berharga untuk kita tentang sebuah keikhlasan, keikhlasan untuk merelakan sedikit apa yang kita punya untuk mereka yang membutuhkan.

Dari semut kita juga belajar untuk tidak sembarangan memberi, seperti diawal tadi semut dibagi menjadi tiga jenis salah satunya semut pekerja. Tentu kita tau bahwa semut-semut yang mengambil makanan kita tadi adalah semut-semut yang berjenis semut pekerja, yang kemudian makanan –makanan itu mereka kumpulkan untuk koloninya.

Pernah ingat dengan orang-orang yang meminta-minta (pengemis) dan beberapa lagi ada yang berjualan koran dan makanan (asongan) ? , dari semut tadi kita diajak untuk berpikir ulang agar tidak sembarangan memberi karna bisa jadi sebuah pemberian kita adalah bentuk dukungan terhadap apa yang orang tersebut lakukan, dengan kata lain jika kita memberi pengemis maka itu bisa jadi bentuk dukungan kita untuk mereka tetap menjadi pengemis begitu pula terhadap pemberian kita ke pedagang koran/ asongan tadi.

Namun ada sedikit perbedaan ketika kita memberi pada mereka yang mau berusaha tidak sekedar hanya menjadi pengemis, mereka yang bertipikal semut pekerja tentu akan bersemangat untuk membesarkan pekerjaannya (dagangannya) karna prinsip berdagang semakin besar keuntungan maka akan selalu ada keinginan untuk memperbesar keuntungan lagi, artinya akan ada usaha lebih produktif lagi.

Dalam hal ini ada baiknya kita mengurangi memberi pengemis, karna menurut pribadi saya selama kita memberi mereka maka pengemis akan tetap ada, padahal jika kita liat ada banyak pengemis yang sebenarnya mampu untuk juga berusaha menjadi seperti semut-semut pekerja, apalagi pengemis yang umurnya masih produktif.

Semut dan ”begal anggaran”
Beberapa hari ini media massa dan socmed khususnya twitter ramai dengan kata-kata begal membegal ditambah lagi begal yang levelnya lebih tinggi yaitu begal anggaran.

Begal anggaran adalah suatu kata yang digunakan kepada mereka yang katanya mewakili rakyatnamun membegal apa yang menjadi hak rakyat dengan menyisipkan sebagian anggaran siluman untuk kepentingan mereka.

Semut tentu sangat berbeda dengan para pembegal anggaran, semut tidak pernah sepulang dari bekerja kemudian membawa makanan kemudian ditengah jalan mereka nikmati sendiri dari jenis mereka (semut pekerja), semut-semut tadi bertanggung jawab membawa apa yang diamanahkan kepada mereka kembali ke koloninya yang terdiri dari 3 jenis tadi.

Andai mereka yang katanya mewakili rakyat tadi bisa belajar banyak dari semut, maka apa yang diamanahkan kepada mereka untuk mengurus anggaran tadi tidak mungkin akan dibegal, atau dinikmati oleh sekelompok dari mereka. Tentu mereka juga akan berpikir untuk mengembalikan apa yang diamanahkan kepada sang pemberi amanah (dalam hal ini rakyat) dengan sebaik-baiknya, kalaupun dikemudian hari rakyat senang dan kemudian memberikan sesuatu yang lebih kepada mereka maka hal itu adalah reward dari kerja yang bertanggung jawab tadi, seperti halnya jika sang ratu semut memberikan penghargaan pada sekelompok semut yang menadapatkan hasil makanan lebih banyak dibanding sekelompok pekerja lainnya. Sekali lagi “andai”.

Jika urusan semut saja kita pelit, bagaimana urusan memberi ke makhluk lainnya.
Ada baiknya kita merenungkan kembali, semut-semut yang mengambil makanan tadi adalah sekelompok yang juga membutuhkan apa yang (kebetulan) kita punya. Mungkin akan lebih baik jika kita kemudian tidak emosi dengan membunuh beberapa dari semut tadi, memberikan waktu untuk mereka kabur memisahkan diri dari makanan kemudian mengambil beberapa bagian untuk kita berikan ke sekelompok semut tadi tentu lebih indah. Mengingat apa yang dilakukan semut-semut tadi adalah bagian dari usaha, maka sudah sewajarnya pula kita meng-apresiasi dari usaha apa yang sekelompok semut tadi lakukan.

Bisa jadi kehadiran semut di makanan kita adalah peluang bagi kita untuk belajar memberi dan menghargai, dan ketika peluang ini kita manfaatkan maka tentu janji tuhan tentang pahala insya Allah juga akan kita dapatkan. Insya Allah.

Jika kamu memberikan uang saku kepada orang lain, mereka juga akan memberimu peluang.
-Pepatah Cina