Asrari Puadi

Wednesday, 22 May 2019

22 Mei dan Selanjutnya, Puncak Kebencian Rakyat?


Semakin banyak yang mendiamkan Cinta, tapi semakin banyak pula yang mendiamkan kebencian.
---
Tatkala seseorang memilih tidak ikut membicarakan kebencian, bisa jadi itu karena ia tidak ingin terlibat konflik. Namun, oleh masyarakat modern yang terus mengomentari apa saja, ia bisa dituding terlibat perilaku pembiaran terhadap kebencian.

Serba-salah ya? Tapi, apakah membiarkan kebencian merajalela adalah sebuah kejahatan?

Tidak bisa serta-merta dinilai demikian. Apalagi, kebencian tak selalu berkonotasi negatif. Perlu ditilik dulu siapa subyek yang membenci dan obyek yang dibenci.

Jika yang membenci adalah kekasihmu, dan kaulah yang dibenci, maka kau layak khawatir telah terjadi perubahan posisi hati pasanganmu dari sayang ke benci. Ini sangat sensitif untuk diobrolkan.

Jika yang membenci adalah kawanmu, dan kau pula yang dibencinya, rasanya ini perlu segera dibicarakan.

Pertemanan, apalagi persahabatan, adalah hubungan yang lebih misterius daripada percintaan.

Mengapa ia bisa berubah membencimu? Tiba-tiba saja begitu atau kebencian itu dibangun perlahan dan lama-kelamaan menyekat hubungan kalian?

Hanya dalam politik, tidak ada kawan abadi. Di luar itu, perlu alasan luar biasa untuk bisa benci pada teman sendiri.

Jika yang membencimu adalah lawanmu, atau sebut saja musuh -- jika memang ada permusuhan di antara kalian, maka itu sewajarnya saja terjadi.

Persoalannya adalah apakah kau juga memusuhinya atau tidak. Tak perlu rasanya membalas kebenciannya dengan kebencian pula. Apalagi sampai harus membawa-bawa agama dan Tuhan.

Jika memang kau yang kelak masuk surga, bukankah lebih hebat jika Cinta juga membawa siapa pun yang memusuhimu masuk ke dalamnya?

Yang lebih berbahaya dari akal sakit adalah disfungsi hati. Selayaknya hati memiliki perasaan-perasaan yang indah, tentu saja Cinta yang mendominasi.

Saat seseorang membenci, ia seringkali tak butuh alasan lagi untuk berbuat apa saja demi menyakiti yang dibencinya. Padahal, tanpa disadari, sesungguhnya ia sedang menyakiti dirinya sendiri.

Satu-satunya kebencian yang layak adalah kebencian terhadap keburukan dan perbuatan buruk, namun itu pun bukan alasan untuk mulai menyakiti bukan?
--
Do'aku untuk Mei

Asrari Puadi,
Jogja 22 Mei

(Source foto @masagungwilis)

Monday, 3 September 2018

Dari Sampit, Energi Muda Sang Juara Itu Bergelora Membuat Bangga


Bersamaan dengan penutupan Asian Games, pada 2 September 2018 lalu, Kementerian Ristek Dikti lewat akun resmi instagramnya mengumumkan hasil dari Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) ke-31 yang dihelat di Yogyakarta, dengan kampus Universitas Negeri Yogyakarta sebagai tuan rumahnya. Total, ada 10 kampus yang dirilis sebagai juara dalam ajang tahunan ini.

Untuk diketahui, PIMNAS sendiri merupakan event bergengsi yang ada di Indonesia, diikuti oleh seluruh kampus yang berhasil lolos dari seleksi ketat sebelumnya. Di PIMNAS inilah karya Intelektual dan kreativitas mahasiswa saling bersaing untuk meraih medali Emas, Perak dan Perunggu pada tiap bidangnya. Singkatnya, PIMNAS adalah ajang “maha besar” bagi pembuktian kualitas dan kreativitas mahasiswa dari kampus-kampus se-antero nusantara.

Sejarah Baru Lahir
Kembali pada hasil PIMNAS, ada dua hal yang menarik dari hasil PIMNAS kali ini, pertama, sang juara umum Universitas Gadjah Mada (UGM) -- kampus tempat saya numpang kuliah sekarang ini – awalnya adalah kampus yang tidak masuk dalam 10 besar kampus yang lolos dalam PIMNAS, namun pada akhirnya berhasil menunjukkan bahkan mampu menjadi juara umum pada hasil akhir.

Kedua, ini yang paling menarik dan memukau, yaitu ada kampus di luar pulau Jawa yang masuk dalam daftar 10 besar juara PIMNAS ke-31 ini. Kampus ini berasal dari kota Sampit - Kalimantan Tengah, kota yang menjadi tempat saya tumbuh besar mengenyam pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas.

Nama kampus ini adalah STKIP Muhammadiyah Sampit, sebuah kampus yang tidak asing lagi bagi masyarakat kota Sampit kota Mentaya. Lewat Program Kreativitas Mahasiswa “Uluh Tabela Paduli Basa Itah” (Generasi Muda Peduli Bahasa Kita), STKIP berhasil meraih medali perunggu pada lomba poster dan mendapatkan medali emas pada lomba presentasi, dengan capaian inilah membuat STKIP Muhammadiyah Sampit berhasil menduduki peringkat 9, satu angka di atas Universitas Negeri Semarang yang meraih peringkat ke-10, dan selisih satu angka dengan peringkat ke-8, Universitas Airlangga Surabaya, kampus nomor 4 di Indonesia yang masuk dalam daftar rangking kampus dunia yang dirilis oleh Lembaga pemeringkat Universitas dunia “Quacquarelly Symonds (QS)”.



Prestasi yang diraih anak muda Sampit ini adalah sejarah baru selama pelaksanaan PIMNAS berlangsung, dan tentu menjadi sejarah baru bagi daerah kita, Kota Sampit. Lebih dari itu, raihan yang dicapai oleh STKIP Muhammadiyah Sampit menunjukkan bahwa kampus kita di Sampit tidak hanya berpikir bagaimana bisa “bertahan hidup”, dengan memikirkan bagaimana memastikan mahasiswanya agar terus tetap ada dan memenuhi kuota di tiap penerimaan mahasiswa baru. Tapi juga ada visi besar untuk ikut membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) kita. Bahkan tidak hanya berhenti disitu, juga ada visi nyata untuk menunjukkan bahwa mahasiswa Sampit, siap unjuk gigi, siap bertarung dan bersaing, bahkan siap untuk menorehkan prestasi membanggakan di kancah Nasional.


Saatnya kita apresiasi, kita Viralkan !
Saya pribadi mengikuti perkembangan Program Kreativitas Mahasiswa “Uluh Tabela Paduli Basa Itah” ini secara rutin lewat akun instagramnya @paduli_basa_itah . Mereka ini luar biasa, di tengah bahasa daerah kita (bahasa Dayak Sampit) yang mulai luntur di kalangan anak muda, kawan-kawan muda dari STKIP Muhammadiyah Sampit ini tak tinggal diam dan menerima dengan pasrah begitu saja, mereka bergerak nyata dan menunjukkan bahwa kemajuan zaman dan teknologi yang pesat justru dapat dimanfaatkan untuk melestarikan bahasa daerah kita yang mulai ditinggalkan.

Seperti yang dilakukan Presiden Jokowi kepada para atlet Indonesia dengan memberikan bonus pada yang meraih medali dalam perhelatan Asian Games, tentu kita juga pasti berharap ada apresiasi serupa dari pemerintah daerah kita, PEMKAB Kotawaringin Timur kepada para anak-anak muda Sampit yang menjadi juara di ajang PIMNAS ini. Apresiasi itu tak perlu melulu soal uang pembinaan, tapi apresiasi itu kiranya harus dalam wujud keberpihakan nyata PEMKAB pada mimpi mereka untuk melestarikan bahasa daerah kita, dan juga keberpihakan pada mimpi mereka agar kreativitas anak muda mendapatkan ruang dan perhatian serius dari pemerintah daerah.

Ini Baru Awalan, Gelora Prestasi Harus Terus Dinyalakan !
Yang perlu kita ingat betul, PIMNAS boleh saja berakhir dengan hasilnya menempatkan putra-putri kebanggaan kota Sampit di urutan 9 besar nasional. Tapi energi muda, energi untuk terus melahirkan karya dan prestasi, harus terus begelora. Ini baru awalan, kita tidak boleh lengah, perjalanan masih panjang. Pemuda Sampit harus terus bersemangat, bagaimanapun tantangan menghadang. Insya Allah, kita tentu sama-sama meyakini bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati proses dan perjuangan.

Dalam tulisan ini, tidak lupa saya pribadi juga mengucapkan terima kasih untuk kawan-kawan muda STKIP Muhammadiyah Sampit dan semua pihak di balik suksesnya Program Kreativitas Mahasiswa “Uluh Tabela Paduli Basa Itah”, kami haru dan kami bangga, semoga terus bergelora.

Terakhir, lokasi lahir boleh dimana saja tapi lokasi mimpi harus di langit !

Salam Muda,

-------------------------------
Penulis : Asrari Puadi, Mahasiswa S2 Ketahanan Nasional UGM dan Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Kalteng di Yogyakarta, dapat ditemui di akun Instagram atau Facebook : @asraripuadi , Profil lengkap dapat dibaca di : bit.ly/kenaliasrari
------------------------------

* *Saya juga mengajak setiap siapa saja yang membaca tulisan ini untuk ikut meng-apresiasi secara nyata prestasi kawan-kawan muda kita. Caranya ?. mudah !, cukup share tulisan ini di media sosialmu (WA, FB line dan lainnya) agar informasi dan gelora prestasi yang diraih kawan-kawan muda kita ini juga sampai dan menjadi inspirasi bagi keluarga dan kawan muda kita lainnya.

Saturday, 4 August 2018

Nasionalis dan Religius Jangan Sampai Pecah - #TerimaKasihGusDur

Aku ingat, matanya memang terpejam/ Tapi nyata: ia melihat lebih banyak dari kami semua/ Memandang lebih dalam dari kami yang matanya membelakak/ Dan menyaksikan lebih jauh dari mata kami yang terbuka lebar/ Lelaki itu...adalah samudera kehangatan/ Di mana setiap orang bebas berenang, berselancar ataupun menyelam/ Tanpa takut ditanya: agamamu apa?

Untaian kata di atas adalah kutipan sajak dari putri Gus Dur, Inayah Wahid. Sebuah sajak yang mengingatkan kembali kepada kita bagaimana seorang Gus Dur hidup dan "membuka mata" kita dalam berbangsa dan bernegara dengan cara lain nan sederhana. Meskipun, di lain sisi Gus Dur juga acapkali "diremehkan" oleh sebagian pihak karena keterbatasannya.

Lewat kepiawaiannya, Gus Dur membuat kita tertawa, meniada atas beban dan bertoleran atas perbedaan, serta membuat kita "bertawaf" ke dalam diri untuk melihat hal-hal yang substantif dibanding sibuk meng-intrik dan mati-matian memperjuangkan kepentingan sekelompok elite.

Maka, tak ayal lewat Gus Dur pulalah lahir kata-kata yang menempatkan kemanusiaan dan segala entitas pembelaan terhadapnya sebagai fondasi utama atas bangunan berkehidupan dan bernegara, yang hingga kini banyak dikutip dan dijadikan quote oleh sebagian besar dari kita, karena dianggap masih sangat relevan dengan kondisi bangsa yang akhir-akhir ini sering melenceng dari asas kemanusiaan.

Seperti: "Tuhan tidak perlu dibela. Dia sudah maha segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil." Atau, "Memaafkan tidak akan mengubah masa lalu, tetapi memberi ruang besar untuk masa depan," serta "Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa adanya perbedaan."

Nasionalisme Romantis
Tema nasionalisme selalu menjadi maskot pembicaraan di mana pun, terlebih saat negara mulai dirasa goyah dan berpotensi pecah oleh ulah sekelompok "anak negeri" yang resah dan ingin mengganti arah bernegara yang justru sesat pikir dan mengkhianati sejarah. Jargon-jargon didengungkan dari layar kaca hingga spanduk warga, media sosial tak jarang bertengkar berebut klaim siapa yang paling benar dan siapa yang paling nasionalis dalam bernegara, bahkan tak jarang melibatkan agama dalam pusarannya.

Dalam studi dan kajian wawasan kenusantaraan, nasionalisme erat kaitannya dengan memiliki rasa solidaritas kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat cinta atas Tanah Air yang satu. Lebih lanjut menurut Taufik (2010) nilai kebangsaan adalah dasar pertimbangan yang berharga bagi seseorang atau organisasi untuk menentukan sikap dan perilaku berupa perasaan cinta atau bangga terhadap Tanah Air dan bangsa berdasarkan prinsip kebersamaan, persatuan dan kesatuan, demokrasi atau demokratis, dengan melaksanakan dan mengembangkan sikap serta perilaku kehidupan sehari-hari.

Saking istimewanya nasionalisme dan pengertian yang terkandung di dalamnya, seorang sosiolog kenamaan, Emile Durkheim bahkan berhipotesis bahwa nasionalisme dapat menjadi "agama baru" dalam tatanan sosial masyarakat modern, karena kemampuannya menjadi integrator dari masyarakat majemuk tatkala hubungan-hubungan sosial semakin terasa longgar dan sangat berbau materialis (Adisusilo, 2010).

Terlepas dari mulai pudarnya nasionalisme di masyarakat maupun elite politik dan segala kekurangan dalam implementasinya, nasionalisme sebagai wujud cita-cita luhur dari "The Founding Fathers" yaitu mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil material dan spiritual dan makmur dalam kebhinnekaan Indonesia, tetaplah dibutuhkan dan harus terus dihidupkan.

Mengayuh kembali kepada sosok Gus Dur, sebagai tokoh agama dan seorang nasionalis, Gus Dur sangat mantap sebagai seorang muslim dengan toleransi yang luar biasa dalam melihat berbagai persoalan kebangsaan yang ada. Gus Dur juga acapkali memberikan kepada kita simbol-simbol, cerita, dan tauladan yang memberikan penglihatan baru dan pemahaman segar dalam memaknai nasionalisme.

Kembali sedikit ke belakang, masih segar dalam ingatan kita bagaimana Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri pada masanya membuat cerita yang unik bagi kehidupan politik nasional dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua tokoh besar ini kerap kali terlihat secara kasat oleh kita sering bertentangan secara ideologis bagai minyak dan air yang susah menyatu. Namun, pada scene yang lain kita dapat pula melihat kedua tokoh ini menyatu, membantu, dan saling menyokong, terlebih saat berbicara kepentingan nasional.

Seperti yang dikisahkan Megawati saat berpidato pada acara Apel Besar Hari Lahir NU ke-93 di Pasuruan, Jawa Timur beberapa waktu yang lalu. Suatu ketika, saat Megawati berada di Istana Wakil Presiden, tiba-tiba Gus Dur menelepon dan bertanya, "Mbak Mega, di rumah ada nasi goreng?" ungkap Megawati menirukan pembicaraan Gus Dur tersebut. Lebih lanjut Megawati mengatakan, pertanyaan tentang nasi goreng itu merupakan taktik Gus Dur untuk membicarakan hal yang penting.

"Nasi goreng buatan Mbak Mega paling enak sedunia," tutur Megawati menirukan pujian dari Gus Dur yang kemudian disambut gelak tawa para hadirin yang menghadiri kegiatan tersebut. Tak lama dari perbincangan itu, Gus Dur datang ke Istana Wakil Presiden dan bicara tanpa basa-basi, "Mbak, pokoke awak dhewe iki ojo sampek pecah (Mbak, kita ini jangan sampai pecah)," jelas Mega.

Mega waktu itu tidak paham dan balik bertanya. "Maksude awake dhewe iki opo to, Gus?" tanya Mega memperjelas arah pembicaraan Gus Dur. Lalu, Gus Dur pun menjawab, "Nasionalis dan religius jangan sampai pecah, kalau pecah negara ini akan goyah," kata Gus Dur kepada Mega.

Dari kisah "konsolidasi cinta" yang diungkapkan Megawati atas pengalamannya bersama Gus Dur tersebutlah semakin menjelaskan kepada kita bagaimana nasionalisme sebagai suatu emosi yang kuat dapat dimaknai dengan cara-cara yang jauh dari gesekan, jauh dari pertentangan. Sehingga nasionalisme yang kita dekap dan yakini adalah sebuah nasionalisme yang rileks, yang tuma'ninah walau penuh dinamika dalam tiap rakaat-rakaatnya, yang romantis meski harus berjibaku dengan arus-arus kepentingan politis.

Dan, terakhir lewat apa yang kita petik dari Gus Dur, agaknya kita harus mulai mengubah pertanyaan mendasar soal nasionalisme. Yaitu, bukan lagi sekedar "siapa yang paling nasionalis", namun "siapa yang paling romantis" dalam berbangsa dan bernasionalisme.

**tulisan ini juga dipublikasikan di Detik.com

Wednesday, 1 August 2018

Pilkada dan Masa Depan Hutan Kalimantan Tengah


Dalam waktu dekat sebuah pesta demokrasi rakyat yaitu Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2018 akan diselenggarakan pada 27 Juni mendatang. Total ada 11 daerah Kabupaten/Kota di Kalimantan Tengah yang akan melaksanakan perhelatan tersebut. Sejumlah nama pasangan calon (paslon) pun sudah berlomba “berhias”, masyarakat juga disibukkan dengan berbagai aktivitas dari jalan sehat hingga berkumpul menuju panggung dangdut yang hadir menyemarakkan pidato para paslon yang ingin mendulang suara rakyat.

Namun di sisi lain, hutan sebagai bagian dari alam kehidupan seolah tertinggal dari keramaian dan sihir pesona Pilkada. Padahal, baru-baru ini Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalimantan Tengah mencatat ada 46 kali kebakaran lahan yang terjadi, dengan jumlah luasan lahan yang terbakar mencapai 482 hektare sejak Januari hingga Februari 2018. Tersebar di berbagai titik pada sepuluh daerah yakni, Barito Utara, Barito Selatan, Kapuas, Gunung Mas, Katingan, Palangkaraya, Kobar, Kotim, Seruyan, dan Sukamara.

Deforestasi, Menuju Gurun Kalimantan 
Hutan bagi orang Kalimantan sejatinya bukan hanya sekumpulan pepohonan. Hutan menjadi rumah bagi ekosistem berharga, langka dan sarat manfaat. Pada konteks yang lain, hutan berfungsi sebagai penjaga suci dari kearifan lokal dan keluhuran budaya asli “uluh itah”, karena di hutan-hutan lah suku-suku pedalaman Dayak hidup lestari dan berdampingan.

Hutan Kalimantan juga merupakan salah satu paru-paru terbesar bagi dunia, yaitu sekitar 40,8 juta hektar. Sayangnya, laju deforestasi yang terjadi pada hutan Kalimantan begitu cepat. Baru-baru ini WWF Indonesia bersama dengan WWF Malaysia mempublikasikan laporan berjudul “The Environmental Status of Borneo 2016”. Laporan itu menyebutkan bahwa Kalimantan dalam keadaan yang sangat bahaya. Karena secara perlahan telah kehilangan ekosistem utamanya. Ekosistem yang sangat penting bagi kehidupan dan perekonomian masyarakat, bukan hanya bagi orang Kalimantan sendiri, bahkan bagi negara tetangga Brunei dan Malaysia. Lebih lanjut menurut laporan itu, dari total sekitar 74 juta hektar hutan pada 2015, sebanyak 55 persennya bukan lagi hutan. Ia sudah berubah menjadi lahan pemukiman, perkebunan, dan tambang. Bahkan WWF memperkirakan Kalimantan akan kehilangan 75 persen hutan pada 2020.

Tingginya laju deforestasi hutan di Kalimantan ini ikut menambah catatan kelam Indonesia yang pernah tercatat dalam Guiness Book of The Record sebagai negara yang laju kerusakan hutannya tercepat di dunia. Tentu ini bukan sebuah catatan prestasi yang patut untuk dibanggakan bahkan mungkin tergolong prestasi yang memalukan. Selanjutnya, jika problem hutan terus diabaikan dan deforestasi terjadi semakin cepat, maka tak mustahil suatu saat Kalimantan akan mengalami proses penggurunan (desertifikasi) hingga akhirnya menjadi Gurun Kalimantan, menemani Gurun Sahara dan gurun-gurun lainnya di Dunia.

Hukum Tebang Pilih 
Lambatnya aparat hukum dalam menangani permasalahan hutan serta sanksi hukuman yang ringan menjadi salah satu penyebab berulangnya kasus pembakaran hutan dari tahun ke tahun. Aspek materil dari perkara hukum kebakaran hutan dan lahan juga terbilang masih lemah, kelemahan tersebut umum­nya terkait hukum acara dan prosedur dalam memproses perkara perdata maupun pidana perusahaan pelaku pembakaran hutan atau lahan. Belum lagi ditambah banyaknya penegak hukum yang hanya mengandalkan bukti materiil, dan tidak siap ketika dihadapkan untuk menjawab konter dari pembela pembakar hutan terutama yang dilakukan oleh perusahaan atau korporasi besar soal pembuktian dampak kerusakan terhadap lingkungan dan kualitas tanah. Ini yang kemudian membuat banyak dakwaan pidana hanya mentok di hukuman penjara dalam hitungan bulanan dan denda ringan di bawah kisaran Rp 10 miliar, dan yang kena pun bukan pemilik perusahaan.

Persoalan lainnya yaitu perlakuan dari penegak hukum yang berbeda. Padahal melihat peristiwa hukumnya, pembakaran hutan dan lahan oleh individu maupun korporasi terjadi di lokasi yang sama, tetapi diperlakukan berbeda. Memang, sejumlah analisis mengatakan bahwa pelaku pembakaran hutan juga ada yang dilakukan oleh individu atau petani kecil yang hidup di sekitar hutan (sebagai kearifan lokal). Tapi moral hazard lebih besar ada di otak para pengusaha yang ingin cara cepat dan murah, yang kemudian berujung kepada bencana lingkungan hidup dan merugikan banyak pihak serta alam.

Menanti Komitmen Menjaga Hutan 
Berkurangnya luasan dan kualitas hutan di Kalimantan Tengah menjadi ancaman serius bagi berbagai jenis flora - fauna langka, ekosistem, serta kita. Sehingga melalui momentum Pilkada serentak, hutan selayaknya lah mendapat perhatian khusus dan menjadi satu dari kesekian komitmen para Paslon, menjadi janji politik yang tentu harus ditepati kelak ketika diamanahi oleh rakyat.

Beberapa komitmen tersebut setidaknya harus menyentuh beberapa hal berikut : Pertama, komitmen untuk menerapkan green business. Yaitu sebuah konsep untuk membangun Ekonomi hijau untuk memastikan pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan berkelanjutan. Bentuk ekonomi hijau ini bisa dalam bentuk ecotourism, pemanfaatan hasil hutan yang berkelanjutan, hingga perkebunan sawit yang bertanggung jawab. Kedua, mewajibkan adanya hutan konservasi dan memulai mengurangi izin perusahaan yang membutuhkan lahan dalam skala besar. Hal ini merujuk pada data Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah yang menyebutkan kalangan pengusaha pemilik perusahaan besar swasta (PBS) sektor kehutanan telah menguasai setidaknya 5,1 juta hektar kawasan hutan dari 15,3 juta hektar total luas wilayah Provinsi Kalimantan Tengah. Penguasaan lahan ini jika dikalkulasi, mencapai sepertiga dari total lahan hutan di Kalimantan Tengah. Ketiga, yaitu komitmen untuk menaikkan anggaran (jika kelak terpilih) bagi kegiatan penanggulangan dan penjagaan kawasan hutan dari pembakaran lahan, disertai komitmen pemberian sanksi tegas kepada oknum atau perusahaan korporasi yang menjadi pelanggar.

Komitmen dari para paslon yang berlaga di Pilkada dan ikhtiar serius saat amanah memimpin didapat tentulah sangat kita nantikan. Agar hutan yang indah ini tak terus menerus menjerit dan kesakitan. Karena hutan Kalimantan Tengah adalah masa depan Indonesia, masa depan dunia, masa depan Kalimantan Tengah dan masa depan kita.


*tulisan ini juga diterbitkan oleh Kalteng Pos

Monday, 7 May 2018

Dimanapun Lokasi Lahirmu, Bermimpilah Setinggi Langit


Sore (6/5) ditemani teman-teman Alumni GenBI Kalteng (Generasi Baru Indonesia, yaitu kumpulan mahasiswa penerima beasiswa Bank Indonesia), kami bertemu dengan Novia, gadis cantik yang kini menempuh sekolah kelas 2 SD yang tinggal di sekitaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di KM.14 Palangka Raya.

Saat kami diantarkan olehnya berjalan menuju TPA, Novia bercerita tentang cita-citanya yang ingin menjadi Guru. Novia pengen jadi guru karena pengen bisa ngajar anak-anak lainnya nanti saat besar katanya.

Satu anak lainnya, bernama Tari. Kalau Tari ini punya mimpi jadi Dokter. Tempatnya yang tinggal di sekitaran "gunungan" sampah dan pengolahan limbah tinja memang rentan dijangkiti penyakit. Itulah yang membuatnya pengen menjadi Dokter, biar kalau ada yang sakit di tempatnya bisa dia obati dengan cepat katanya.

Semoga Novia dan Tari bisa meraih mimpinya kelak, jadi inspirasi teman-temannya :)
-----
"Lokasi lahir boleh di mana saja, tapi mimpi harus setinggi langit".

(Palangka Raya, 6 Mei 2018)