Alasan Nyaleg

"Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang Jahat, tapi DIAM nya orang-orang Baik"

Artikel berikut diambil dari hasil wawancara Tim Buletin “Kabar Relawan” Gerakan Turun Tangan kepada Asrari Puadi pada Agustus 2018 dengan tema "Milenial di Kancah Politik".

1. Cukup lama nggak ada kabar di TurunTangan, tiba-tiba kamu bikin kejutan menjadi caleg DPRD Provinsi Kalteng, dan tentu banyak yang terkejut juga takjub. Boleh donk ceritain awal mula kamu terjun ke politik sampai menjadi caleg?
  • Pada awalnya memang ada beberapa kawan-kawan muda yang menjadi pengurus Parpol di Kalteng yang cukup intensif membuka komunikasi, intinya kawan-kawan saya ini menyarankan agar ikut dalam Pemilu 2019, karna saya sudah cukup lama berada di tanah rantau (Jawa). Singkatnya mereka sampaikan, sudah saatnya untuk balik mengabdi ke tanah kelahiran. Saya tidak langsung oke setuju waktu itu, saya minta diberikan waktu sampai benar-benar secara logika dan hati merasa siap untuk terlibat dan bersedia dicalonkan. Proses silaturahim pun saya jalankan ke berbagai orang, karna harus saya akui ini bukan pilihan yang mudah. Butuh kisaran 3 bulan saya meminta nasehat kepada banyak kawan, tetua, keluarga dan juga tentu para Kyai. Ada yang pro dan tentu tak sedikit juga yang menyarankan untuk “berpuasa” terlebih dahulu.
  • Sampai pada akhirnya saya lakukan proses kedua, untuk me-ngetes bagaimana respon kawan-kawan khususnya kelompok usia muda. Saya buat beberapa kegiatan di Kalteng, seingat saya ada dua kali bolak-balik Jogja-Kalteng untuk membuat berbagai acara. Seusai acara saya minta pandangan kawan-kawan yang hadir, saya tidak menyangka mereka malah support betul bahkan tak sedikit yang siap membantu. Alasan utama mereka karena selama ini aspirasi anak muda cenderung macet salurannya untuk sampai ke parlemen, sehingga belum banyak kebijakan yang pro dengan anak muda.
  • Terakhir sekali yang saya lakukan adalah berziarah ke beberapa makam. Waktu itu ke makam Hos Tjokroaminoto, Jenderal Besar Sudirman, Tjilik Riwut pahlawan Kalteng, Makam kakek saya H.Mahlan, dan yang terakhir Sunan Kalijaga. Saya merasa butuh untuk berziarah untuk memperkuat batin saya dengan berkomunikasi dengan para leluhur tersebut, sekaligus meminta izin kepada para leluhur agar bisa dikuatkan dan diluruskan atas niat untuk mengabdi ke daerah lewat jalur politik dan melanjutkan perjuangan mereka untuk bangsa ini.
2. Menurutmu kenapa anak muda harus terjun ke politik?
  • Jawaban yang selalu saya sampaikan kira-kira ada dua, pertama karena selama ini anak muda hanya jadi “potential voters” yang dikeruk dan diseret suaranya untuk memilih. Tapi amat jarang kemudian kebijakan-kebijakan (yang kita tau ini adalah produk dari proses politik) yang pro dengan anak muda. Saya selalu bilang ke kawan-kawan tak hanya di Kalteng, bahwa bicara anak muda bukan hanya bicara hari ini, tapi bicara masa depan. Saya tidak ingin bonus demografi yang sebentar lagi akan kita dapati hanya akan jadi malapetaka karna ketiadaan kebijakan yang pro dan berpihak pada pembangunan anak muda. Artinya membangun anak muda sama dengan membangun masa depan Kalteng dan juga Indonesia, dan itu tidak bisa kita tunda-tunda lagi.
  • Kedua, perlu diingat juga kita sudah masuk era disrupsi atau revolusi Industri 4.0, salah satu fenomena yang harus direspon dengan cepat dan tepat. Nah ini butuh energi muda yang notabene larinya masih bisa cepat. Selain itu juga, saya yakin anak muda masih punya komitmen moral yang baik dan bersih karena idealisme nya yang masih kuat. Jadi kehadiran anak muda penting dalam politik agar menjadi energi yang tak hanya baru, tapi juga energi yang cepat untuk membantu proses politik yang lebih responsif terhadap fenomena zaman dan kebutuhan “real” di masyarakat.
3. Politik itu kotor, tapi kamu peduli dengan politik, bahkan terjun politik, kenapa?
  • Karna kepedulian setiap kita sebagai anak bangsa terhadap politik sangatlah penting bagi kemajuan kehidupan negeri ini ke depan. Saya rasa sudah saatnya kita sebagai anak muda tak bergaya apatis dengan politik. Jika kita sebagai anak muda tidak berpartisipasi, pemerintahan yang hingga sampai saat ini kita anggap perlu diperbaiki karna tidak egaliter dengan keinginan rakyat, alias masih ada mafia hukum, dan mafia-mafia lainnya di dalam politik tersebut, maka selanjutnya negeri ini akan begini-begini saja atau bahkan makin terpuruk.
  • Menengok ke belakang harusnya kita malu dengan Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, dan banyak lagi anak bangsa yang masih tergolong dalam usia muda berjuang untuk bangsanya, kalau pernah main ke taman makan pahlawan tak sedikit yang hanya tersemat kata “pemuda” di nisannya. Mereka semua aktor intelektual muda yang berjuang lewat ikhtiar politik untuk bangsanya,
  • Jadi apatisme politik bagi anak muda itu udah basi. Kini anak muda harus lebih peduli. Pastikan kita bergandeng tangan, agar kritik, saran, gagasan dan aspirasi kita anak muda bisa ikut hadir dan mewarnai setiap proses kebijakan di daerah kita. Kalau politik itu ibarat air yang kotor, ya tugas anak muda untuk bebarengan, rame-rame menggantinya dengan air yang baru, yaitu air yang membawa arus deras perubahan dan kebaruan. Ya, air itulah kita anak muda.
4. Kamu kan masih muda, bahkan sekarang masih kuliah, sempet ragu nggak sih kamu masuk politik?
  • Ya mesti sempat, tapi justru dari keraguan itulah saya kemudian tergerak untuk harus segera menentukan. Pilih ambil, atau diam aja ketika tawaran mengabdi ke daerah itu hadir ke depan kita. Ya pilihannya, Bismillah saya ambil jalan pengabdian lewat ikhtiar politik ini.
  • Kalau terkait kuliah memang juga menjadi faktor penentu dalam keputusan ini. Tapi saya pikir-pikir lagi, kan saya beasiswa ya, didanai dari dana dan urunan rakyat lewat beasiswa Kemenpora, dan kuliah saya di UGM ini kalau diperas inti tujuannya adalah melahirkan pemimpin-pemimpin baru bagi Indonesia, karena konsentrasinya pengembangan kepemimpinan kepemudaan. Jadi saya pikir pilihan terjun ke politik ini juga menjadi bagian dari mengimplementasikan ilmu yang saya dapat di UGM, dan bagian dari wujud terima kasih saya kepada urunan rakyat tadi, dengan menyatakan siap ketika ada pilihan untuk mengabdi kembali kepada rakyat. Apalagi yang berkuliah di UGM dari Kalteng ini bisa dihitung dengan jari, ini makin mendorong saya agar jangan nyaman dengan bangku kuliah lantas lupa dengan membangun daerah.
5. Respon orang tua ketika kamu terjun ke politik bagaimana?
  • Orang tua saya mendukung Alhamdulillah, karena memang orang tua sendiri tidak asing dengan dunia ini. Mereka cukup sering terlibat dalam dunia politik, dengan menjadi timses sebelumnya bagi beberapa caleg dan pasangan calon pimpinan daerah di Kalteng. Jadi mereka juga ikut mem-bismillah kan dengan pilihan saya ini. Pesan mereka selalu, jika sudah iya maka jangan pantang menyerah atau “isen mulang” bahasa Dayaknya, dan selalu melibatkan orang-orang tua sesepuh, agar tidak kebablasan, selalu dekat dengan nasehat-nasehat baik dan ingat dengan niat awal untuk pengabdian. 
6. Siapa sih orang yang membuat kamu masuk politik? Apakah kamu melihat ada tokoh yang memberi kamu inspirasi?
  • Pertama, ya masyarakat Kalteng itu sendiri, khususnya kawan-kawan muda yang dari manapun ia berasal, apapun backgroundnya dan interestnya terhadap sesuatu, mereka semua inspirasi saya. Apalagi yang dari pedalaman-pedalaman Kalteng, mereka jadi inspirasi saya bahwa kita anak kampung ini juga bisa mengabdi lewat jalur politik, yang menurut banyak orang hanya untuk orang kota dan ber-uang.
  • Kedua yaitu para anggota DPRD yang duduk hari ini. Mereka inspirasi saya juga, inspirasi untuk lebih baik lagi dari kerja yang telah mereka sumbangsihkan. Sesuai dengan kaidah Ushul Fiqh -- Al mukhafadzotu ala al qodimisholih wal Ahdzu bil Jadidil Aslah – yang kurang lebih terjemahan bebasnya adalah tugas manusia belajar dari yang lama yang baik, meneruskan yang lama yang baik, dan meng-inovasi sesuatu yang baru yang lebih baik.
7. Mengapa masuk NasDem ?
  • NasDem saya liat Partai yang konsisten membawa semangat perubahan (sesuai dengan tagline-nya restorasi Indonesia). Semangat ini bisa dilihat dari proses masuk menjadi Caleg, dalam prosesnya kami ada wawancara dan tes tertulis, sebuah cara yang menurut saya sangat adil. Kami diuji dan ditanya seputar rekam jejak dan visi ke depan yang hendak dicapai, dan yang paling penting NasDem juga konsisten memulai tradisi politik yang baik dengan mengusung politik tanpa mahar, itu terbukti selama proses pencalegan di partai saya tidak ada keluar dana sepeserpun. Yang lain saya liat NasDem juga berani dan cepat dalam mengusung orang-orang baik dalam tiap kontestasi politik, seperti Ridwan Kamil di Jabar dan Ibu Khofifah di Jatim, kedua orang ini saya tahu sekali rekam jejaknya, mereka sosok yang berani, cepat dan kreatif. Jadi saya kira NasDem sangat pas dengan semangat saya, terlebih NasDem di Kalteng ini suasana komunikasinya sangat akrab sekali ditambah pengurusnya juga banyak diisi oleh anak muda.
8. Menurut kamu nih, apa sih permasalahan di Indonesia yang mesti di benahi?
  • Kalau bicara masalah Indonesia hari ini, saya jadi ingat mata kuliah Wawasan Nusantara. Artinya dengan fakta geografis kita sebagai negara kepulauan, maka masalah kita dari dulu sebenarnya adalah ketimpangan antar wilayah, yang sumber utama masalahnya adalah pembangunan yang belum merata. Makanya kita perlu apresiasi pemerintahan hari ini yang punya komitmen untuk memprioritaskan pemerataan pembangunan yang berkeadilan, khususnya di daerah-daerah timur, luar jawa yang di beberapa era sebelumnya di anak tirikan. Masifnya pembangunan (utamanya infrastruktur) kita harapkan dapat mengakselerasi pemerataan pembangunan dan bergeraknya ekonomi produktif rakyat, selain itu tentulah akan mempermudah konektivitas pertukaran barang dan jasa antar provinsi, antar pulau, dan antar wilayah toh, sehingga seluruh wilayah di Indonesia menjadi bagian penting dari rantai produksi regional dan global guna memeratakan pembangunan ke seluruh wilayah NKRI. Kalau ini selesai, saya rasa masalah-masalah bangsa lainnya mudah jalannya untuk diurai. 
9. Lalu apa permasalahan di Kalteng yang mesti dibenahi?
  • Pertama, akses dan kualitas pendidikannya, ini menjadi problem utama karna kualitas SDM menjadi pintu awal bagi Kalteng untuk mengejar ketertinggalannya, masalah ini juga masalah yang akan koneksi dengan masalah lainnya. Data BPS tahun 2016, menyebutkan mayoritas pekerja di Kalteng berlatar Pendidikan SD kisaran ada di angka 416.719 jiwa. Ini tentu berpengaruh pada daya saing para pekerja yang berdampak pada ketahanan ekonomi, terlebih jika dikaitkan dengan era MEA (masyarakat ekonomi asean) dan wacana pemindahan ibukota ke Kalteng. Insya Allah ini jadi komitmen utama saya ketika terpilih, untuk ikut fokus pada bidang ini. Penggangaran APBD harus lebih pro lagi dengan pendidikan di Kalteng, saya juga melihat ada satu hal yaitu bagaimana mensupport para mahasiswa yang kuliah di luar Kalteng untuk kembali mengabdi di Kalteng. Ini jembatannya harus kita bangun, misal dengan pemberian akses khusus untuk pemagangan di daerah. Agar para mahasiswa Kalteng yang kuliah di luar Kalteng ini tidak kagok dan punya ikatan batin untuk ikut mengabdi di daerah. Tentu pembedanya harus lebih kreatif lagi ketika tahu fakta di lapangan masih banyak permasalahan.
  • Kedua, ini masalah yang juga beririsan dengan masalah pertama tadi. Yaitu latar belakang pendidikan para pembuat kebijakan yang kalau kita lihat data, masih banyak diisi oleh yang berlatar pendidikan SLTA/SMA. Ya memang tidak salah, karena UU pemilu memang memberi kelegalan untuk itu. Tapi kalau kita pikir betul-betul, wilayah ini (parlemen) sangat butuh orang-orang dengan kompetensi dan keahlian tertentu yang mempuni. Saya secara real pernah mendapatkan ketika melakukan penelitian seputar PERDA HIV/AIDS (perda kesehatan) yang dimana anggota dewannya tidak ada (sama sekali) orang dengan background kesehatan. Bisa dibayangkan kualitas kebijakannya bukan ?, ini juga kemudian, kenapa saya terdorong untuk akhirnya meng-iyakan ketika diajak untuk maju menjadi Caleg.
10. Masih suka hangout nggak? Apa ngurusin politik terus?
  • Masih dong, hehe. Masuk politik itu tidak harus serius-serius sekali. Kalau serius terus nanti konslet pikirannya. Kita butuh untuk berjalan ke beberapa tempat, melihat yang baik-baik, ketemu orang-orang baru agar pikiran terus segar. Fungsinya ya biar nalar kreatif kita jalan, jangan sampai kehidupan politk kita jalani dengan nalar yang membeku dan kurang piknik. 
11. Hobinya apa? Misalnya hobi baca buku, buku apa yang kamu suka dan kenapa?
  • Baca buku dan mendengarkan musik. Kalau ditanya buku-buku apa yang disuka, saya jawab buku-bukunya Cak Nun. Karna tulisan Cak Nun ini unik, kosakata nya sering sederhana bahkan tak jarang bahasa-bahasa yang menurut kita “ndeso” menjadi amat syarat dengan keindahan dan kedalaman filosofis. Kalau musik, saya suka dengan karya-karya dari band Indie “Efek Rumah Kaca”. Bahkan bisa dikatakan banyak dari karya bang Cholil dkk ini menjadi inspirasi saya hingga hari ini. Sebut saja lagu berjudul “Kuning” yang bicara tentang semangat menjaga keberagaman.
12. Indonesia mengalami bonus demografi, akan ada banyak anak muda di negeri ini, bagaimana kamu melihat ini?
  • Saya optimis, kalau dikelola dengan baik akan jadi energi baik untuk membawa Indonesia bersaing dengan bangsa lainnya. Asal syaratnya tadi, anak muda jangan apatis terhadap politik. Karena kalau kita apatis, politik kita hanya akan melahirkan dan mempertontonkan keributan saja, dampaknya kebijakan-kebijakan strategis yang harusnya bisa segera diselesaikan dan pro dengan pengembangan anak muda jadi terpinggirkan. Selanjutnya, kita harus yakin betul bahwa musuh kita hari ini sebenarnya yang paling berat bukan bangsa asing, tapi kita sendiri. Oleh karena itu anak mudanya jangan ikut-ikutan menyumbang keributan, kita harus jadi generasi baru yang ikut memastikan nasib kita dan bangsa ini lebih baik ke depan, lewat melahirkan banyak karya dan sinergi satu sama lain. Bahasa gaulnya, kerja keren, kerja bersama untuk Indonesia.
13. Apa cara paling kongkrit bagi anak muda bisa aktif di pemerintahan?
  • Bikin komunitas, ajak teman-teman untuk ikut urun peran, turun tangan menyelesaikan tiap pos permasalahan yang ada di sekitar kita. Tapi jangan sendirian, harus sinergi dengan yang lainnya, terutama dengan pemerintah yang sebenarnya juga sangat butuh sokongan dari kelompok masyarakat dan anak muda. Kalaupun ada beda-beda gagasan itu tidak apa-apa lah, semangatnya harus untuk saling men-ta’aruf-i gagasan, jadi saling mengisi, support dan belajar. Karena sejatinya siapa sih yang bisa menyelesaikan masalah di daerah dan di Indonesia sendirian? Itu hanya bisa dilakukan jika kita semua bersama-sama.
14. Indonesia seperti apa yang kamu idam-idamkan?
  • Indonesia yang anak-anak mudanya tidak lagi baperan, tapi lebih banyak berperan. Mengapa saya bilang gini, karna 1 dari 3 penduduk Indonesia hari ini adalah millenial, dan ciri khasnya adalah mayoritas pecandu internet yang rentan baperan. Saya sebut baperan karna sangat banyak juga millennial yang berantem karna hanya beda interest politik, beda nge-fans nya terhadap salah satu tokoh. Ini baru di politik ya belum lagi yang lain, yang mau tidak mau kadang muncul juga di timeline media sosial kita. Ya….saya berharap kualitas dunia internet kita nanti lebih banyak diisi dengan good news yang memberikan cerita, prestasi, dan peran-peran yang telah dilakukan oleh sekelompok anak muda untuk negerinya. Agar yang lain ikut tergugah juga untuk melakukan sesuatu, sekecil mungkin.
15. Apa yang akan kamu sampaikan kepada anak-anak muda di Kabar Relawan ini terhadap permasalahan bangsa Indonesia atau bagi mereka yang ingin terjun ke politik?
  • Bagi kawan-kawan saya, khususnya yang muda, yang punya niatan untuk terjun ke politik saya titip untuk ingat satu ini, yaitu “Humanity is greater than politics”. Jadi praktik politik ke depan harus mencerminkan betul wajah dan nafas kebangsaan kita yang beragam. Negeri ini butuh banyak negarawan muda yang memiliki pandangan wasathiyah atau moderat, yang dibutuhkan untuk merawat keberagaman di tengah ancaman polarisasi blok politik yang semakin meruncing hari ini. Pastikan kehadiran kita bukan menjadi pemantik perpecahan. Kita perlu menengok lagi ke belakang bagaimana Soekarno, Hatta, Syahrir, yang punya pandangan berbeda tentang bagaimana “jalan dan cara” untuk meraih kemerdekaan itu bisa bersatu atas nama kebangsaan. Mereka tak lantas berkelahi karna hanya berdebat. Jadi, saya titip jaga nusantara ini, jangan lagi politik pecah belah atas nama agama, ras, golongan dll menjadi hal yang dipertontonkan oleh generasi kita ke depan.
--
Mari jadi bagian baik, bersama-sama menjadi relawan perubahan bagi Kalteng : Klik Daftar

0 Comments