Bersamaan dengan penutupan Asian Games, pada 2 September 2018 lalu, Kementerian Ristek Dikti lewat akun resmi instagramnya mengumumkan hasil dari Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) ke-31 yang dihelat di Yogyakarta, dengan kampus Universitas Negeri Yogyakarta sebagai tuan rumahnya. Total, ada 10 kampus yang dirilis sebagai juara dalam ajang tahunan ini.

Untuk diketahui, PIMNAS sendiri merupakan event bergengsi yang ada di Indonesia, diikuti oleh seluruh kampus yang berhasil lolos dari seleksi ketat sebelumnya. Di PIMNAS inilah karya Intelektual dan kreativitas mahasiswa saling bersaing untuk meraih medali Emas, Perak dan Perunggu pada tiap bidangnya. Singkatnya, PIMNAS adalah ajang “maha besar” bagi pembuktian kualitas dan kreativitas mahasiswa dari kampus-kampus se-antero nusantara.

Sejarah Baru Lahir
Kembali pada hasil PIMNAS, ada dua hal yang menarik dari hasil PIMNAS kali ini, pertama, sang juara umum Universitas Gadjah Mada (UGM) -- kampus tempat saya numpang kuliah sekarang ini – awalnya adalah kampus yang tidak masuk dalam 10 besar kampus yang lolos dalam PIMNAS, namun pada akhirnya berhasil menunjukkan bahkan mampu menjadi juara umum pada hasil akhir.

Kedua, ini yang paling menarik dan memukau, yaitu ada kampus di luar pulau Jawa yang masuk dalam daftar 10 besar juara PIMNAS ke-31 ini. Kampus ini berasal dari kota Sampit - Kalimantan Tengah, kota yang menjadi tempat saya tumbuh besar mengenyam pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas.

Nama kampus ini adalah STKIP Muhammadiyah Sampit, sebuah kampus yang tidak asing lagi bagi masyarakat kota Sampit kota Mentaya. Lewat Program Kreativitas Mahasiswa “Uluh Tabela Paduli Basa Itah” (Generasi Muda Peduli Bahasa Kita), STKIP berhasil meraih medali perunggu pada lomba poster dan mendapatkan medali emas pada lomba presentasi, dengan capaian inilah membuat STKIP Muhammadiyah Sampit berhasil menduduki peringkat 9, satu angka di atas Universitas Negeri Semarang yang meraih peringkat ke-10, dan selisih satu angka dengan peringkat ke-8, Universitas Airlangga Surabaya, kampus nomor 4 di Indonesia yang masuk dalam daftar rangking kampus dunia yang dirilis oleh Lembaga pemeringkat Universitas dunia “Quacquarelly Symonds (QS)”.

Prestasi yang diraih anak muda Sampit ini adalah sejarah baru selama pelaksanaan PIMNAS berlangsung, dan tentu menjadi sejarah baru bagi daerah kita, Kota Sampit. Lebih dari itu, raihan yang dicapai oleh STKIP Muhammadiyah Sampit menunjukkan bahwa kampus kita di Sampit tidak hanya berpikir bagaimana bisa “bertahan hidup”, dengan memikirkan bagaimana memastikan mahasiswanya agar terus tetap ada dan memenuhi kuota di tiap penerimaan mahasiswa baru. Tapi juga ada visi besar untuk ikut membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) kita. Bahkan tidak hanya berhenti disitu, juga ada visi nyata untuk menunjukkan bahwa mahasiswa Sampit, siap unjuk gigi, siap bertarung dan bersaing, bahkan siap untuk menorehkan prestasi membanggakan di kancah Nasional.


Saatnya kita apresiasi, kita Viralkan !
Saya pribadi mengikuti perkembangan Program Kreativitas Mahasiswa “Uluh Tabela Paduli Basa Itah” ini secara rutin lewat akun instagramnya @paduli_basa_itah . Mereka ini luar biasa, di tengah bahasa daerah kita (bahasa Dayak Sampit) yang mulai luntur di kalangan anak muda, kawan-kawan muda dari STKIP Muhammadiyah Sampit ini tak tinggal diam dan menerima dengan pasrah begitu saja, mereka bergerak nyata dan menunjukkan bahwa kemajuan zaman dan teknologi yang pesat justru dapat dimanfaatkan untuk melestarikan bahasa daerah kita yang mulai ditinggalkan.

Seperti yang dilakukan Presiden Jokowi kepada para atlet Indonesia dengan memberikan bonus pada yang meraih medali dalam perhelatan Asian Games, tentu kita juga pasti berharap ada apresiasi serupa dari pemerintah daerah kita, PEMKAB Kotawaringin Timur kepada para anak-anak muda Sampit yang menjadi juara di ajang PIMNAS ini. Apresiasi itu tak perlu melulu soal uang pembinaan, tapi apresiasi itu kiranya harus dalam wujud keberpihakan nyata PEMKAB pada mimpi mereka untuk melestarikan bahasa daerah kita, dan juga keberpihakan pada mimpi mereka agar kreativitas anak muda mendapatkan ruang dan perhatian serius dari pemerintah daerah.

Ini Baru Awalan, Gelora Prestasi Harus Terus Dinyalakan !
Yang perlu kita ingat betul, PIMNAS boleh saja berakhir dengan hasilnya menempatkan putra-putri kebanggaan kota Sampit di urutan 9 besar nasional. Tapi energi muda, energi untuk terus melahirkan karya dan prestasi, harus terus begelora. Ini baru awalan, kita tidak boleh lengah, perjalanan masih panjang. Pemuda Sampit harus terus bersemangat, bagaimanapun tantangan menghadang. Insya Allah, kita tentu sama-sama meyakini bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati proses dan perjuangan.

Dalam tulisan ini, tidak lupa saya pribadi juga mengucapkan terima kasih untuk kawan-kawan muda STKIP Muhammadiyah Sampit dan semua pihak di balik suksesnya Program Kreativitas Mahasiswa “Uluh Tabela Paduli Basa Itah”, kami haru dan kami bangga, semoga terus bergelora.

Terakhir, lokasi lahir boleh dimana saja tapi lokasi mimpi harus di langit !

Salam Muda,

-------------------------------
Penulis : Asrari Puadi, Mahasiswa S2 Ketahanan Nasional UGM dan Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Kalteng di Yogyakarta, dapat ditemui di akun Instagram atau Facebook : @asraripuadi , Profil lengkap dapat dibaca di : bit.ly/kenaliasrari
------------------------------

* *Saya juga mengajak setiap siapa saja yang membaca tulisan ini untuk ikut meng-apresiasi secara nyata prestasi kawan-kawan muda kita. Caranya ?. mudah !, cukup share tulisan ini di media sosialmu (WA, FB line dan lainnya) agar informasi dan gelora prestasi yang diraih kawan-kawan muda kita ini juga sampai dan menjadi inspirasi bagi keluarga dan kawan muda kita lainnya.