(Pemuda/i Seruyan saat berdiskusi menyoal pembangunan di Kaliurang - Yogyakarta/2018)
Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemuda yang tak kenal waktu, yang selalu berjuang dengan penuh semangat, walaupun jiwa raga menjadi taruhannya, dan Sumpah Pemuda menjadi satu dari kesekian catatan sejarah atas kiprah dan perjuangan pemuda untuk bangsa.
Di masa itu, sekumpulan pemuda hadir turut ikut mengisi negerinya, komitmen persatuan berdasar rasa sepenanggungan terhadap bangsa dikumandangkan di “Kongres Pemoeda” yang diadakan di Waltervreden (sekarang Jakarta) yang sebelumnya terlebih dahulu dilaksanakan di kota Yogyakarta. Komitmen itu kemudian diejawantahkan dalam tiga baris satu kesatuan; Bertumpah darah yang satu - Tanah Air Indonesia. Berbangsa yang satu - Bangsa Indonesia. Menjunjung Bahasa Persatuan - Bahasa Indonesia. Tiga baris satu kesatuan itulah yang kemudian sukses mengantarkan negeri ini pada rasa persatuan yang menggelora, sebuah kekuatan yang mampu menggulung kolonialisme hingga mengantarkan pada kesuksesan dari cita-cita bangsa yang merdeka.
Pemuda dan Pembangunan Berkeadilan
Setiap kita adalah pembelajar, meng-iqra-i banyak hal (tanpa terkecuali), dan belajar adalah kegiatan sehari-hari yang kita lakukan semenjak kita lahir dari rahim dan ditiupkan oleh-Nya ruh kehidupan. Menjadi pelajar berarti membiasakan diri dengan kegiatan produktif. Jika sebagian memilih cukup puas dengan mem-bully dan nyinyir akan masalah bangsa, maka pelajar bangsa harus mampu dan terbiasa memproduksi optimisme, mendirikan dengan gagah beragam karya, ide dan solusi untuk negeri.
Berdasar proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2015, jumlah pemuda mencapai 62,4 juta orang atau mencapai hampir 25% dari seluruh penduduk Indonesia, dengan persebaran jumlah pemuda di Pulau Jawa menempati posisi pertama yaitu 57,94%. Jika itu kita kaitkan dengan pendidikan, maka data itu mengisyaratkan bahwa banyak anak muda yang hijrah untuk berbondong-bondong mengenyam pendidikan di luar daerah asalnya.

Hal itu jika dilihat dari kacamata positif tentu mengidentitaskan sebuah kebaikan, yaitu niatan akan “pembangunan daerah” dengan menghijrahkan banyak anak muda untuk belajar ke perantauan, ini senada dengan bunyi Nawa Cita yaitu ”Membangun Indonesia dari pinggiran”. Keinginan membangun dari pinggiran ini berarti juga merubah orientasi pembangunan di Indonesia yang selama ini masih urban oriented dan acap kali menyebabkan terjadinya kesenjangan antar daerah di Indonesia. Hal itu terlihat dari pendapatan domestik bruto (PDB) yang sekitar 58,29% berasal dari pulau Jawa. Selanjutnya, berturut-turut diikuti oleh Pulau Sumatera 22,21%, Pulau Kalimantan 8,15%, dan sisanya terbagi di kawasan Indonesia timur. Adanya kesenjangan tersebut memiliki relevansi pada kemiskinan yang mayoritas terjadi di Indonesia di luar Jawa khususnya bagian timur, yang menurut data bahwa 183 kabupaten tertinggal di Indonesia, 70% di antaranya berada di Indonesia bagian timur. 
Kepulangan Anak-anak Rantau.
Pada era desentralisasi ini, daerah memang seperti berlomba-lomba “menembakkan” putra-putrinya untuk belajar ke berbagai daerah dan negara. Tujuannya satu, pulang membawa sumbangsih untuk kemajuan daerah. Namun juga tak dipungkiri meski sudah bisa melanjutkan kuliah ke jenjang lebih tinggi, banyak pemuda yang kini enggan untuk kembali ke daerah untuk membangun daerahnya dikarenakan tidak ada wadah untuk pemuda dalam mengekspresikan bakat dan ide nya.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya lah daerah memberikan ruang bagi kepulangan anak-anak rantau yang menjadi putra-putri daerahnya untuk berekspresi sesuai dengan bakat dan kompetensi yang dimiliki. Dengan membangun tempat dan ruang yang mampu meng-inkubasi ide-gagasan, dan menjembatani para pemuda dengan pemerintah , pelaku usaha, serta multi elemen lainnya yang terkait. Sehingga kelak mampu menciptakan sebuah geliat ekonomi, inovasi dan memperkuat konsepsi otonomi daerah dengan kemandirian yang nyata.

Bisakah?


(*Tulisan ini terinspirasi dari hasil diskusi loteng bersama "Bung" Yordi)