Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua.

Sebelumnya saya meminta keikhlasan adik, sekaligus keluarga kami yang hadir pada Kongres-5 IMATELKI hari ini, untuk mengikhlaskan maaf atas keterbatasan waktu dan kesempatan saya untuk hadir dan bertemu langsung dengan keluargaku semua.
Semoga pesan ini dapat menjadi pengganti atas keterbatasan itu.

Sahabat, keluarga dan kader IMATELKI sekalian.
Sebagai awal sambutan ini, saya ingin sedikit mengulang kembali ke ingatan sahabat semua mengenai sejarah lahirnya IMATELKI.

IMATELKI lahir atas dasar dan keingininan luhur untuk ikut andil memperjuangkan “marwah” profesi. Sebuah keniscayaan bagi siapa saja yang hadir di Kongres-1 IMATELKI di Asrama Haji Donohudan Solo, 15-17 April 2012 pada waktu itu, untuk tidak bersepakat bahwa profesi kita memang sedang mengalami cukup banyak masalah. Minimnya ruang gerak bagi anak muda yaitu mahasiswa, menjadi satu point penting yang menjadi awal titik lahirnya IMATELKI.

Keluargaku, kader IMATELKI sekalian.
Menjadi bagian IMATELKI adalah baiat, sumpah kepada diri sendiri untuk terus bergerak. Mengapa bergerak ? karena sudah terlalu banyak mahasiswa yang berasumsi dan berucap “Sudah kita kuliah saja, ngapain repot-repot ngurusin profesi, sudah ada yang ngurus”., seolah-olah kita tidak bisa melakukan banyak hal bermanfaat untuk profesi dengan kapasitas kita sebagai mahasiswa.

Sliweran asumsi-asumsi itulah yang hendak diubah lewat lahirnya IMATELKI.

Prinsipnya “Lets own the problem” , siapa saja harus punya tanggung jawab dan rasa atas kepemilikan segala masalah yang ada di profesi kita. Hematnya, masalah yang ada di TLM adalah tanggung jawab kita semua yang menjadi bagian TLM, “tanpa terkecuali”. Baik itu patelki, dosen, institusi kampus, lebih-lebih kita yang mengaku sebagai mahasiswa “agent of change”, agen perubahan dan kebaruan.

Pertanyaan selanjutnya, apa saja masalahnya ?. Masalah yang bisa diurai dan dicarikan formula solusinya oleh kita yang berstatus mahasiswa ini.

Jika berkenan dan semoga kita bersepakat. Apabila dikerucutkan masalah utamanya adalah pada “Semai Kepemimpinan”, saya memakai istilah semai karna saya amat yakin sahabat semua adalah orang-orang yang dianugerahi “bibit handal nan khas”. Namun, mungkin belum bisa tumbuh dengan baik dikarenakan kurangnya medium, serta pengalaman yang bisa menyemai kepemimpinannya dengan baik, lebih-lebih kepemimpinan dengan kapasitas dan pengetahuan akan profesi yang mempuni. Ibarat tanaman, butuh tumbuh di tanah yang pas, air dan sinar matahari yang mencukupi, serta pupuk yang berkualitas, barulah bisa tumbuh subur dengan buah dan bunga yang indah.

Semai kepemimpinan inilah yang akan menjadi eskalator bagi kita untuk naik kelas dan sejajar dengan profesi lainnya.

Sahabat, dan keluargaku sekalian kader IMATELKI.
Mungkin seringkali sahabat semua banyak mendengar, bahwa Indonesia akan tiba pada saatnya mengalami masa dimana kelompok muda akan lebih banyak jumlahnya dibanding kelompok tua. Atau bahasa yang agak kerennya disebut dengan “Bonus demografi”.

Bonus demografi ini memang terbukti mujarab. Jepang, korea dan negara-negara maju lainnya sudah membuktikan. Lihat saja jepang yang luluh lantak akibat serangan besar bom atom nagasaki dan hiroshima, serta kuatnya sentimen negara sekutu. Membuktikan dapat bangkit bahkan menjadi raja di berbagai bidang Industri. Itu semua karena peran dari hadirnya banyak anak muda. Tak heran “si garuda” Soekarno, dengan berapi-api berucap “Berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia”.

Kader IMATELKI sekalian, peserta kongres dari berbagai penjuru nusantara.
Sekarang saya ingin mengajak sahabat semua merefleksikan diri sejenak dengan mencoba mengaplikasikan prinsip bonus demografi tadi ke konteks TLM.
Data menyebut perguruan tinggi TLM di Indonesia setidaknya berjumlah lebih dari 50 Perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.

Jika kita asumsikan di tiap perguruan tinggi itu tiap tahunnya akan meluluskan 50 mahasiswa, maka setidaknya ada 2.500 mahasiswa dengan gelar Ahli TLM tiap tahunnya. Jika kita hitung 10 tahun kedepan, maka akan ada 25 ribu mahasiswa dengan gelar Ahli TLM.

Kemudian, pertanyaannya adalah, apakah kita akan membiarkan dengan “ikhlas” 25 ribu TLM ini menjadi orang-orang yang “Hanya” akan memiki kemampuan seputar laboratorium ?,
Selanjutnya, apakah profesi kita 10 tahun kedepan akan naik kelas dengan “hanya” menempatkan orang-orang nya di dalam laboratorium ?.

Jika kebijakan yang menyangkut kesejahteraan profesi kita bisa diubah hanya oleh orang-orang yang paham dengan cara mengolah dan meng-advokasi kebijakan. Mengapa kita tidak belajar untuk juga tau, bisa dan ahli di bidang itu.
Jika kita tahu kualitas pendidikan kita akan baik jika jenjang pendidikannya bertambah dan diisi oleh orang-orang yang juga peduli bahkan juga berlatar belakang yang sama (TLM). Mengapa kita tidak belajar untuk juga bisa menjadi lebih, dan tertantang untuk ambil bagian meningkatkan kelas pendidikan kita.

Maaf jika ini menyinggung dan di “cap” sebagai gerakan melawan takdir seorang TLM sebagai “ahli (di dalam) laboratorium”. Namun besar harapannya, ini bisa menjadi titik awal berpikir sahabat-sahabat semua dan bertanya lagi kepada diri pribadi. “Mengapa aku harus ber-IMATELKI ?”. Karena sahabat kader-kader IMATELKI inilah, harapan serta jawaban atas masa depan profesi ini kedepan dipertaruhkan.

Sahabat, panitia dan peserta Kongres-5 IMATELKI.
Terakhir catatan dari saya.
Tidak ada pelajaran khusus apalagi kuliah untuk belajar secara teoritik tentang arti sahabat dan keluarga. Dan di IMATELKI inilah kita belajar menjadi sahabat sekaligus keluarga. Tidak ada kata bisnis dan sederet hitung-hitungan lainnya dalam percakapan kita sebagai sahabat dan keluarga di IMATELKI. Pun tidak ada kata sesal sedikitpun.

Pasang-surut, ramai-sepi, setuju-tidak setuju, sedih-gembira, siang-malam, bahkan tak jarang untung-rugi beserta “kadang” sekelumit drama air mata kita lalui dan alami bersama di IMATELKI. Persahabatan dan keluarga di IMATELKI melampaui batas-batas perbedaan yang kita miliki bersama. Kita tidak pernah mempermasalahkan perbedaan. Bahkan perbedaan itulah menjadi komposisi manis dalam keseharian kita berproses di IMATELKI.

Lewat agenda nasional, Kongres-5 IMATELKI ini saya kembali berpesan. Jagalah persahabatan dan rasa kekeluargaan kalian semua sebagai satu kesatuan IMATELKI. Tidak ada yang tidak bisa di IMATELKI, kita semua belajar untuk menjadi bisa di IMATELKI. Pun tidak ada yang lebih istimewa di IMATELKI, karena dimanapun kalian, dari daerah manapun kalian berasal, kalian dan kita sama-sama akan menjadi istimewanya di IMATELKI.

Perbanyaklah kawan diluar IMATELKI, namun jangan lupakan untuk terus berbagi dan “kembali pulang kerumah hijau” untuk memberi andil bagi kemajuan IMATELKI. Dan pula jangan segan untuk menyapa dan bertukar pikiran dengan Alumni, karena sejatinya Alumni pun masih sangat rindu dan bersemangat berjuang dalam “satu barisan” bersama kalian anak muda penyulut api juang dan karya IMATELKI.

Tak lupa, terima kasih kepada panitia jakarta beserta jajaran DPP, yang penuh dengan suka cita menyambut kehadiran sahabat IMATELKI semua.

Semoga dengan dihelatnya Kongres ke-5 di Jakarta ini, IMATELKI semakin menjadi dewasa, dan “aktif” melahirkan pemimpin-pemimpin handal, serta berintegritas. Baik bagi IMATELKI maupun profesi. Amin ya rabbal alamin.

Mari kita miliki, ambil bagian dan berjuang bersama untuk IMATELKI, Profesi dan Negeri.

Selamat ber-kongres !.

Tabik,
A.R. Asrari Puadi
(Alumni IMATELKI)


foto utama : Kongres 1 IMATELKI