Sakral, ramai, penuh suka cita. Lantunan takbir bergemuruh di sudut-sudut kampung hingga perkotaan, dari yang dewasa bahkan anak-anak dengan suara agak sedikit cadel pun begitu riang menggemakan takbir, dari senja hingga menuju esok hari di penanggalan yang baru.

Alkisah setelah dikaruniai seorang anak, Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menjadikan anaknya, Ismail sebagai kurban. Nabi Ibrahim yang sangat mencintai anaknya pun dengan penuh keterbukaan meminta persetujuan anaknya Ismail, dengan tenang dan yakin Ismail menjawab, "Ayah lakukan saja". Sebuah jawaban ikhlas dan patuh yang mungkin akan sangat sulit kita temukan persamaannya di zaman sekarang ini.

Bagi Ibrahim dan Ismail anaknya, Tuhan adalah nomor satu dan segalanya, bahkan sekalipun nyawa menjadi taruhannya.

Lewat diberikannya perintah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail itulah, kemudian dianjurkan pula kepada kita untuk berkurban (bagi yang mampu dan memampukan) di setiap perayaan Idul Adha. Berkurban kemudian menjadi satu dari kesekian item untuk memperkuat identitas ketaqwaan kita kepada Maha Nur, Allah SWT. Bersyukur, kita yang menjadi umat kekasih-Nya Muhammad ini tidak kemudian juga diperintahkan serupa dengan apa yang diterima Nabi Ibrahim. Namun lewat hewan-hewan lah kita menjalankan perintah-Nya.
Kecintaan kita bukan terletak pada hewan-hewan berdaging itu.
Entah sejak kapan, mayoritas orang di negeri ini suka bahkan amat sangat menyukai dengan daging. Saking doyannya kita dengan jenis panganan satu ini, santer beberapa kali terdengar kita mengimpor Sapi dari negeri seberang. Data Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) mengungkapkan, kebutuhan kita akan daging secara Nasional adalah 300.000 ton/tahun, angka kebutuhan itu yang kemudian menyebabkan kita mau tidak mau harus mengimpor kurang lebih 600.000 ekor Sapi setiap tahunnya (*SemarangPos).
Kembali ke Idul Adha, Sapi dan hewan-hewan berdaging lainnya itu menjadi amat populer di saat-saat seperti ini. Pembelian kemudian melonjak, diikuti dengan harga yang juga ikut (agak) melonjak di sejumlah daerah. Diluar dalil dan anjuran jenis serta kriteria hewan yang disembelih, semua orang seperti bersepakat mendefinisikan "korban" dalam Hari raya kurban sebagai ritual yang (hanya) memotong hewan-hewan berdaging, bahkan tak sedikit pula yang menjadikannya sebagai ajang pamer. Seolah-olah jalan satu-satunya untuk mencapai-Nya adalah dengan berkorban via sesembelihan dan banyaknya hasil daging tersebut. Jika demikian, maka marilah bersama kita ingat kembali nukilan ini : "Daging-daging (unta) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Al Hajj).
Jadi bukan daging atau darah yang mengalir setelah penyembelihan itulah menjadi bukti kecintaan kita, namun yang terpenting adalah takwa dan keikhlasan kita. Termasuk kemudian menjadikan setiap hari adalah peristiwa kurban dan berkorban di jalan kebaikan, sekecil apapun.
Sembelihlah binatangmu, hidupkanlah manusiamu. *Gus Mus