Tidak terasa, sebentar lagi ramadhan yang agung nan berkah ini akan pergi meninggalkan kita. Segala tindak tanduk yang dilakukan selama ber-ramadhan menjadi catatan dan bekal yang menjadi nilai atas ramadhan kita di hari ini di yaumil akhir kelak. Seyogyanya ramadhan tidaklah hanya meninggalkan pelajaran menahan lapar dan dahaga, namun lebih dari itu ramadhan juga seyogyanya menjadi suatu pelajaran penting dalam konteks kehidupan berpolitik, lebih-lebih bagi kita yang dimana daerahnya di penghujung tahun ini akan melakukan pergantian tampuk kepemimpinan atau pemilihan kepala daerah langsung (PILKADA), dimana lewat hajatan ini nasib dan kemajuan daerah kita kedepan ditentukan.

Politik sebagai ladang amal.

Politik disebutkan sebagai seni untuk meraih kekuasaan, dalam perspektif sempit lagi politik dicitrakan sebagai bentuk perilaku keduniawian, sehingga selalu berkaitan dengan pusaran harta, kekuasaan dan kedudukan yang kemudian membuat banyak orang memandang politik sebagai jalan yang kurang baik dan dihindari dalam berkehidupan.

Pandangan diatas memang tak serta merta muncul tanpa sebab musabab, cara-cara masuk kedalam politik dengan cara yang kurang terhormat membuat citra politik semakin kurang baik di mata masyarakat, sebut saja agenda politik menggunakaan pemikat uang sebagai penarik dukungan yang terjadi marak hampir di semua daerah pemilihan. Namun pandangan ini harusnya juga tak serta merta menyurutkan kesempatan bagi politik untuk mendapatkan citra yang baik dimata masyarakat. Mengutip apa yang pernah diucapkan Anies Baswedan bahwa “Politik menjadi kotor bukan karena politik adalah sesuatu yang terbentuk sebagai produk kotor, namun terlebih karena banyaknya orang-orang baik memilih diam mendiamkan dan enggan masuk terlibat langsung dalam politik”, ibarat kata berharap besar terhadap perubahan namun enggan terlibat menjadi bagian perubahan.

Bukankah kemudian sering kita mendengarkan dalam ceramah-ceramah, kultum, khutbah dan bentuk verbal syiar lainnya bahwa disebutkan setiap manusia di muka bumi ini mempunyai konsekuensi langsung sebagai khalifah sebagaimana terdapat dalam beberapa ayat di dalam al-Qur’an yang dapat dimaknai bahwasannya menjadi pemimpin adalah sebuah bentuk yang diamanahkan langsung oleh Allah kepada kita sehingga kegiatan memimpin merupakan perihal wajib yang harus dilakukan oleh manusia sebagai bentuk ketaatan padaNya.

Dengan tugas khalifah yang diemban tadi, maka mustahil kiranya tidak akan bersentuhan dengan kegiatan yang disebut politik. Hal ini menjadikan politik sebagai salah satu instrumen utama yang harus menjadi kompetensi yang dikuasai seorang khalifah. Politik pula menjadi sesuatu yang mau tidak mau diubah dari suatu kegiatan yang dicitrakan negatif menjadi sesuatu kegiatan yang mempunyai citra positif. Usaha-usaha ini juga lazimnya tidak hanya sekedar kemudian selesai pada tataran memandang politik sebagai sebuah kebaikan, namun juga ditunjukkan dengan jalan menjadi khalifah yang mengerti dengan politik dan menjalankannya dengan kebaikan politik pula. Sehingga politik bukan menjadi ladang untuk memperkaya diri dengan materi atau bentuk-bentuk duniawi lainnya namun menjadikan politik sebagai ladang untuk memperkaya amal sebagai jalan mencapai keridaan sang pencipta.

Untuk mencapai tingkatan politik yang ditujukan sebagai ladang amal maka setidaknya kita dapat berkaca kepada beberapa prinsip dan substansi didalam ramadhan itu sendiri. Salah satunya adalah perihal subtansi menahan hawa dan nafsu.

Selama satu bulan kita diwajibkan untuk menahan hawa dan nafsu dengan baik maka begitu pula dengan berpolitik, berpolitik yang baik akan sangat tahu bahwa ada batasan-batasan yang harus ditaati, salah satu contohnya menahan godaan untuk tidak menerima bujuk rayuan terhadap tindakan korupsi baik itu korupsi yang berupa materil ataupun non materil seperti waktu, maka khalifah yang baik akan tau dan memprioritaskan waktunya untuk memenuhi janji-janji politik dengan tepat sasaran dan tepat waktu.

Kesalehan Politik bukan Politik Kosmetika.

Selain perihal menahan hawa dan nafsu ramadhan tentu mengajarkan banyak hal bagi kita tentang bagaimana menyoal kesalehan, baik itu kesalehan yang bersifat pribadi maupun kesalehan yang sifatnya adalah sosial yang kemudian kita kenal dengan sebutan ibadah Mahdhah yang menghubungkan secara vertikal antara kita dengan Tuhan secara langsung dan juga ibadah Ghairu mahdhah yaitu hubungan horizontal yang merupakan bentuk lain dari ketaatan, dengan penekanan kemasan pada hubungan kita sebagai sesama manusia dengan manusia lainnya. Adapun kesalehan itu sendiri dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan sebagai suatu bentuk ketaatan (kepatuhan) dalam menjalankan ibadah serta kesungguhan menunaikan ajaran agama, yang mana tercermin dalam perilaku kehidupan setiap pelakunya.

Terkait dengan hal diatas, dalam kehidupan berpolitik Ramadhan harusnya memberi pelajaran banyak tentang bagaimana menjadi saleh dengan jalur politik atau kemudian dapat kita sebut dengan terminologi kesalehan politik.

Saleh tentu sebuah predikat yang bukanlah sekedar kosmetik, yang kemudian menjadi instrumen estetika temporer belaka. Figur-figur politik yang saleh bukanlah figur yang kemudian sibuk mendandani dirinya dengan kosmetik pencitraan, bukanlahlah pula yang sibuk hadir didepan rakyatnya dengan perangkat kereligiusan dan keberpihakan sementara. Sehingga politik kosmetika tentu bukanlah ciri kesalehan politik.

Kesalehan politik sangatlah tergantung dengan bagaimana keadaaan hati para pelaku politik. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kepada kita bahwa ada segumpal daging dalam tubuh manusia, jika itu baik maka pikiran, ucapan, dan tindakannya akan baik. Segumpal daging itulah yang disebut hati yang mana dalam bernegara dan berbangsa sebagai bentuk dari kegiatan politik sangat bergantung pada hati sang pemimpinnya. Maka dapat dipastikan kalau hati sang pemimpin baik, akan baiklah seluruh pikiran dan gerak langkah dari apa yang dipimpinnya, dalam hal ini ialah daerah yang menjadi tanggung jawab kepemimpinannya. Kejernihan dan kebaikan hati pemimpin yang mensejahterakan rakyatnya inilah yang harusnya ditonjolkan, bukan malah sibuk mencari panggung sebagai pengakuan atas kekuasaan yang dimilikanya dan upaya politik kosmetika sebagaimana diulas diatas tadi.

Giliran orang baik untuk berpolitik.


Ada baiknya kemudian banyak orang-orang baik memilih masuk dan terlibat dalam politik, entah dalam konteks terlibat sebagai aktor langsung ataupun terlibat sebagai orang yang ikut mengantarkan orang-orang baik masuk kedalam politik. Karena dimensi kesalehan bukanlah kemudian hanya berlaku pada saat di tempat ibadah, berpuasa ataupun kegiatan agama lainnya, namun juga berlaku dalam dimensi politik.

Menjadi aktor politik yang hadir dengan kesalehan politik adalah bentuk lain dari internalisasi ajaran-ajaran agama yang dapat menjadi ladang amal yang berbuah nilai kebaikan bagi timbangan di akhir kelak. Disisi lain sembari kita berdo’a bersama semoga kedepan siapapun pemimpin yang terpilih mampu menjadi aktor yang mengedepankan kesalehan politiknya, sehingga tidak hanya menjadi pemimpin yang dicintai rakyatnya namun juga menjadi pemimpin yang dicintai oleh-Nya.


dimuat di : http://borneonews.co.id/berita/19461-ramadan-amal-dan-kesalehan-politik