“Pemuda hadir tak hanya berbatas pada makna usia, ia hadir dengan luas untuk merasakan negerinya”
Di masa itu 87 tahun yang lalu sekumpulan pemuda hadir turut ikut mengisi negerinya, mengisi dengan sebuah komitmen persatuan berdasar rasa sepenanggungan terhadap bangsa. Bukan main, proses merasakan bangsa yang mereka ejawantahkan dalam tiga baris “Satu Kesatuan” itu sukses mengantarkan negeri pada nuansa persatuan yang bergelora, yang mana menjadi modal penting kala itu dalam usaha mengusir kolonialisme demi tercapainya sebuah bangsa yang merdeka.

Kini kesuksesan merasakan negeri di 87 tahun lalu itu menjadi sebuah moment penting di tiap pergantian tahunnya, beragam kemasan diolah dan disuguhkan untuk merefleksikan nilai-nilai historis dan semangat pemuda dari berbagai “Jong” nusantara. Bahkan tak terhitung berapa banyak anak muda hari ini yang juga ikut menyalakan kembali sumpah pemuda dengan kobaran semangat walau bermodal piranti gadget ala anak muda di zaman kekinian, ratusan bahkan ribuan posting membanjiri lini massa sosial media yang tak jarang juga menjadi trending topic negeri bahkan dunia, lebih-lebih jika waktu itu sumpah pemuda ditulis disebuah lini sosial media, bisa dibayangkan berapa retweet yang akan tersiar keseluruh penjuru negeri.

Bukan asal sumpah

Sumpah menurut pengertiannya yaitu menahkikkan atau menguatkan sesuatu dengan menyertai nama Tuhan. Setidaknya jika ditelisik lebih lanjut ada tiga poin penting yang menjadi bagian yang turut membungkusi makna sumpah, yaitu sebuah pernyataan resmi, tekad untuk siap menanggung konsekuensi atas sesuatu, dan ikrar untuk dengan teguh menunaikan sesuatu.

Sumpah jika disederhanakan mempunyai jarak dan hubungan dekat dengan pemaknaan komitmen, lebih-lebih sumpah yang pada awalnya dibuat dan diperuntukkan untuk sesuatu yang fundamental dan menciptakan nilai keberlanjutan bagi setiap pengucap dan pendengarnya seperti halnya sumpah pemuda.

Sumpah dengan tiga baris “Satu Kesatuan” yang hingga kini kita ingat dan ulang, sejatinya memuat nilai dan kedudukan penting bagi kehidupan pemuda dan bangsa. Nilai-nilai itu memuat sebuah harapan sekaligus komitmen bagi setiap pendengar dan pengucapnya untuk turut melaksanakan dan menginternalisasi kedalam diri pribadi menjadi sebuah lelakon di kehidupan sehari-hari.

Sesekali waktu adakalanya kita perlu bertanya, jika hari ini kita masih menyuguhkan negeri dengan lelakon yang menumpahkan darah sesama anak bangsa, menyibukkan diri dengan berucap bahwa ideologi bangsa ini salah dan yang benar hanyalah ideologi kelompok tertentu, serta mengasingkan bahasa Indonesia di negerinya sendiri, maka jangan-jangan sebenarnya kita hari ini telah berjamaah melanggar sebuah sumpah dan menjadi pemuda yang turut menyumbang dosa bagi negerinya.

Setiap pemuda adalah pelajar bangsa

Setiap kita adalah pembelajar tanpa terkecuali, dan belajar adalah kegiatan sehari-hari yang kita lakukan semenjak kita lahir dari rahim dan ditiupkan oleh-Nya ruh kehidupan.

Belajar dan menjadi pelajar tak boleh memproduksi minder, hari-harinya harus dipenuhi dengan produk optimisme. Jika sebagian memilih cukup puas dengan mem-bully dan nyinyir terhadap sebuah masalah bangsa, maka pelajar bangsa harus gagah mendirikan solusi memagar optimisme untuk menyelesaikan masalah bangsa.

Pelajar tidak boleh trauma dengan luka 350 tahun dijajah, karena sejatinya negeri ini juga masih muda masih punya semangat menyongsong masa depannya. Ledekan negeri lain terhadap bangsa kita yang tradisionalis, kuno dan miskin, harusnya tidak kita amini dengan sikap konsumerisme yang terus menyusu pada temuan teknologi bangsa lain, kita harus menjadi bangsa yang kaya yang bisa menyusu dengan temuan anak negerinya. Koes Plus dalam lirik lagunya menyebutkan bahwa negeri ini adalah “kolam susu” yang mana harusnya tak ketergantungan mencari susu di negeri lainnya.

Pelajar bangsa hari ini harus belajar ekstra tak sekedar hanya belajar menyoal sendiri, kesepian, berdua, bahagia serta segelintir obrolan lain kaum elit berlabel perasaan. Menjadi pemuda dan pelajar bangsa di hari ini harus ikut seaktif mungkin merasakan bangsanya, merasakan tentu tak hanya sekedar peka dan berkata “Oh iya Indonesia”, merasakan harus dimanifestasikan dalam cinta dan rindu untuk terus menjadi aktor yang berlaga menciptakan moment penting bagi sejarah bangsa. Kita harus yakin dan memperlihatkan kepada mereka para pejuang muda, bahwa sumpah pemuda yang 87 tahun silam mereka ucap telah melahirkan “Jong-jong” baru yang siap ikut bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu untuk kemajuan negeri Indonesia.

Tuhan membenci seseorang yang mengatakan sesuatu yang tidak ia kerjakan. Idiom Sufi memberi petuah “tidak mengenal jika tidak merasakan” dan “tidak merasakan jika tidak mengalami”.-
(Candra Malik)