"Kueh atei jida taharu, awi tahi jida hasupa." (Bagaimana hati tak rindu, Karena sudah lama tidak bertemu.)

Jum’at satu hari diantara 7 hari ini merupakan suatu hari yang menurut banyak orang merupakan hari yang istimewa. Jum’at juga yang selalu mengingatkan saya kepada sesosok lelaki dari keluarga kami. Lelaki yang meninggalkan banyak kesan dan cermin hidup, belilaulah H. Mahlan kakek yang kami rindukan.

Kepergian belilau beberapa tahun silam, menjadi sesuatu yang membekas bagi diri saya pribadi. Ada satu hal yang selalu saya ingat ketika mengingat beliau, Jum’at dan Hasupa (Dayak : bertemu) atau dalam bahasa banjar Baelangan (Banjar : bertemu) yang umumnya penduduk di Pembuang Hulu(1) gunakan, merupakan dua hal yang tak terpisahkan dari sesuatu yang membekas itu.

Satu-satunya nama hari yang dijadikan nama surat dalam Al-Qur’an ialah Jum’at, (surat al-Jumu’ah).

Jum’at merupakan hari yang agung, hari yang dimana banyak sumber dan pendapat ulama mengatakan banyaknya keistimewaan di hari Jum’at, dimulai dari waktu yang mustajab untuk berdo’a hingga hari akhir (kiamat) akan tiba di hari Jum’at.

Sebagai mana Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Sebaik-baik hari dimana matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari Jum’at Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari Jum’at itu juga dia dikeluarkan dari Surga. Hari Kiamat tidaklah terjadi kecuali pada hari Jum’at.” (HR.  Muslim) 

Menurut etimologi kata Jum’at berasal dari akar kata jama’a-yajma’u-jam’an, artinya: mengumpulkan, menghimpun, menyatukan, menjumlahkan, dan menggabungkan dengan kata lain juga bisa dimaknakan sebagai persatuan, persahabatan, kerukunan [al-ulfah], dan pertemuan [al-ijtima].

Jum’at dan Baelangan

Sesuai maknanya, Jum’at yang istimewa inilah yang kemudian mengingatkan memori waktu kecil kepada satu waktu dimana semua keluarga kami berkumpul. Salah satunya moment bersama-sama sholat Jum’at di salah satu masjid di dekat rumah dari kakek.

Masjid At-Taqwa sebuah masjid yang cukup besar ini juga yang mengumpulkan banyak orang dari desa kecil Pembuang Hulu, orang-orang (dalam hal ini lelaki) berlomba-lomba menuju masjid dengan pakaian terbaik, bersarung, rapi dan wangi, yang sangat jarang saya temukan di masjid di kota-kota besar dimana sholat jum’at pada umumnya dilakukan tanpa persiapan khusus terlebih dahulu, bahkan di kalangan mahasiswa sudah umum kiranya Jum’at-an dengan berkemeja kampus tanpa peci atau wangi-wangi an.

Disatu sisi suasana Masjid yang dipenuhi dengan kaum lelaki juga dimanfaatkan pula oleh Ibu, Acil (Banjar: Tante/Bude), adik, dan kakak kami untuk Baelangan dalam rangka berkumpul bersama Nenek di rumah, moment inilah kiranya yang menggambarkan kerukunan [al-ulfah].

Sepulang sholat Jum’at berjamaah biasanya kami (lelaki) berkumpul kembali kerumah Kakek dan Nenek, ada suatu tradisi yang biasanya dilakukan yaitu “Selamatan”yang diisi dengan berkumpul memanjatkan do’a Selamat dan do’a – do’a lain yang baik, kegiatan ini juga biasanya diikuti oleh tetangga dan warga lain disekitar rumah kakek-nenek.

Seusai memanjatkan do’a bersama, biasanya ada hidangan makanan dan minuman (Soto Banjar dan Teh hangat umumnya) namun kadang tak puas dengan itu biasanya juga keluarga kami Bepancokan (Banjar : Ngerujak bersama) karna kebetulan kakek nenek mempunyai beberapa tanaman Kedondong disekitar rumah (kini suddah tidak ada). Moment Bepancokan ini juga yang selalu dirindukan, dimana tak hanya menikmati rujak kedondong dengan sambal yang tentu pedas tapi moment saling berbagi, bercanda dan saling tertawa bersama itulah yang membuat moment ini semakin lengkap untuk selalu dirindukan.

Jum’at Bersilaturahmi, Jum’at Bersyukur

Kini, keadaan jauh dari mereka dan kakek yang sudah pergi kiranya Baelangan sebagai perwujudan silaturahmi seperti sebelumnya akan sangat sulit untuk dilakukan. Tapi esensi Jum’at sebagai suatu hari yang meninggalkan pesan tentang keutamaan silaturahmi selalu teringat hingga hari ini.

Jum’at pulalah yang memberi makna dalam tentang kesyukuran, kesyukuran karna diberikan kesehatan dan kesempatan untuk menikmati Jum’at nan indah ini. Karna mungkin banyak lelaki muslim yang merindukan untuk berjamaah melaksanakan Jum’at-an  namun karna keadaan dan kondisi Sakit yang didera sehingga tidak bisa melakukan sebagaimana lelaki lainnya.

Semoga apa yang kakek “isyaratkan” dalam makna Baelangan bisa kami teruskan dalam konteks kekinian. Sehingga semakin kecil kesempatan bagi negeri yang “Bhinneka” ini untuk berseteru dan berselisih paham, karna Jum’at tak hanya sekedar hari diantara hari lainnya, namun Jum'at adalah sesuatu yang penting yang mengingatkan kami tentang makna dalam tentang persatuan, persahabatan, kerukunan [al-ulfah], dan pertemuan [al-ijtima].

Semoga kami cucu-cucu mu, bisa menjadi apa yang termaktub dalam pepatah dayak yaitu menjadi “Oloh je tau menggatang tarung oloh bakase.” (Seseorang yang bisa mengangkat martabat orangtuanya).

Damai disana kek. Al-Fatihah.
Salam Rindu
-dari cucumu yang (masih) bandel-


Keterangan :
(1)     Pembuang Hulu : Salah satu daerah di kecamatan Hanau, Kabupaten Seruyan – Kalimantan Tengah