Kemarin atau setiap hari akan selalu kita dapati peristiwa sebuah makanan yang dihinggapi puluhan atau bahkan ratusan semut, peristiwa yang kadang membuat kita kesal karna betapa inginnya kita dengan makanan tersebut tapi sudah didahului oleh segerombolan semut.

Semut seperti kita ketahui merupakan salah satu hewan “cilik” yang berada dimana-mana di gedung tinggi bahkan di rumah-rumah, mungkin bisa dikatakan semut adalah hewan yang ada di seantero dunia.

Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut mungkin lebih mudahnya kita bisa mengingat lagi apa yang tergambarkan dalam sebuah film “A Bug’s Life” sebuah film yang menarik dan mendidik terutama tentang kerjasama dari koloni semut.

Lantas mengapa tulisan ini seolah-olah mengajak untuk berdamai dengan semut, padahal kita sudah tau semut itu sering bikin kesal karna telah mengambil makanan kita.

Seni ikhlas
Semut-semut yang mengambil makanan memang sudah mengambil tanpa permisi kepada kita yang mempunyai makanan, tentu mereka memang tidak bisa permisi karna bahasa kita yang berbeda.

Namun pernahkah kita terpikir bahwa peristiwa makanan yang diambil oleh semut tadi adalah sebuah pelajaran yang berharga untuk kita tentang sebuah keikhlasan, keikhlasan untuk merelakan sedikit apa yang kita punya untuk mereka yang membutuhkan.

Dari semut kita juga belajar untuk tidak sembarangan memberi, seperti diawal tadi semut dibagi menjadi tiga jenis salah satunya semut pekerja. Tentu kita tau bahwa semut-semut yang mengambil makanan kita tadi adalah semut-semut yang berjenis semut pekerja, yang kemudian makanan –makanan itu mereka kumpulkan untuk koloninya.

Pernah ingat dengan orang-orang yang meminta-minta (pengemis) dan beberapa lagi ada yang berjualan koran dan makanan (asongan) ? , dari semut tadi kita diajak untuk berpikir ulang agar tidak sembarangan memberi karna bisa jadi sebuah pemberian kita adalah bentuk dukungan terhadap apa yang orang tersebut lakukan, dengan kata lain jika kita memberi pengemis maka itu bisa jadi bentuk dukungan kita untuk mereka tetap menjadi pengemis begitu pula terhadap pemberian kita ke pedagang koran/ asongan tadi.

Namun ada sedikit perbedaan ketika kita memberi pada mereka yang mau berusaha tidak sekedar hanya menjadi pengemis, mereka yang bertipikal semut pekerja tentu akan bersemangat untuk membesarkan pekerjaannya (dagangannya) karna prinsip berdagang semakin besar keuntungan maka akan selalu ada keinginan untuk memperbesar keuntungan lagi, artinya akan ada usaha lebih produktif lagi.

Dalam hal ini ada baiknya kita mengurangi memberi pengemis, karna menurut pribadi saya selama kita memberi mereka maka pengemis akan tetap ada, padahal jika kita liat ada banyak pengemis yang sebenarnya mampu untuk juga berusaha menjadi seperti semut-semut pekerja, apalagi pengemis yang umurnya masih produktif.

Semut dan ”begal anggaran”
Beberapa hari ini media massa dan socmed khususnya twitter ramai dengan kata-kata begal membegal ditambah lagi begal yang levelnya lebih tinggi yaitu begal anggaran.

Begal anggaran adalah suatu kata yang digunakan kepada mereka yang katanya mewakili rakyatnamun membegal apa yang menjadi hak rakyat dengan menyisipkan sebagian anggaran siluman untuk kepentingan mereka.

Semut tentu sangat berbeda dengan para pembegal anggaran, semut tidak pernah sepulang dari bekerja kemudian membawa makanan kemudian ditengah jalan mereka nikmati sendiri dari jenis mereka (semut pekerja), semut-semut tadi bertanggung jawab membawa apa yang diamanahkan kepada mereka kembali ke koloninya yang terdiri dari 3 jenis tadi.

Andai mereka yang katanya mewakili rakyat tadi bisa belajar banyak dari semut, maka apa yang diamanahkan kepada mereka untuk mengurus anggaran tadi tidak mungkin akan dibegal, atau dinikmati oleh sekelompok dari mereka. Tentu mereka juga akan berpikir untuk mengembalikan apa yang diamanahkan kepada sang pemberi amanah (dalam hal ini rakyat) dengan sebaik-baiknya, kalaupun dikemudian hari rakyat senang dan kemudian memberikan sesuatu yang lebih kepada mereka maka hal itu adalah reward dari kerja yang bertanggung jawab tadi, seperti halnya jika sang ratu semut memberikan penghargaan pada sekelompok semut yang menadapatkan hasil makanan lebih banyak dibanding sekelompok pekerja lainnya. Sekali lagi “andai”.

Jika urusan semut saja kita pelit, bagaimana urusan memberi ke makhluk lainnya.
Ada baiknya kita merenungkan kembali, semut-semut yang mengambil makanan tadi adalah sekelompok yang juga membutuhkan apa yang (kebetulan) kita punya. Mungkin akan lebih baik jika kita kemudian tidak emosi dengan membunuh beberapa dari semut tadi, memberikan waktu untuk mereka kabur memisahkan diri dari makanan kemudian mengambil beberapa bagian untuk kita berikan ke sekelompok semut tadi tentu lebih indah. Mengingat apa yang dilakukan semut-semut tadi adalah bagian dari usaha, maka sudah sewajarnya pula kita meng-apresiasi dari usaha apa yang sekelompok semut tadi lakukan.

Bisa jadi kehadiran semut di makanan kita adalah peluang bagi kita untuk belajar memberi dan menghargai, dan ketika peluang ini kita manfaatkan maka tentu janji tuhan tentang pahala insya Allah juga akan kita dapatkan. Insya Allah.

Jika kamu memberikan uang saku kepada orang lain, mereka juga akan memberimu peluang.
-Pepatah Cina